Banyak orang masih berpikir, “Kalau hubungannya bahagia, ngapain selingkuh?”
Padahal kenyataannya, perselingkuhan sering kali bukan soal pasangan atau kurangnya kebahagiaan, tapi soal urusan internal di dalam diri pelakunya sendiri.
Ada orang yang hubungannya stabil, pasangannya perhatian, hidupnya terlihat baik-baik saja—tapi tetap selingkuh. Bukan karena cintanya kurang, melainkan karena ada kebutuhan pribadi yang belum selesai.
Beberapa alasan yang paling sering muncul biasanya seperti ini:
1. Butuh Validasi dan Pengakuan
Orang dengan rasa percaya diri yang rapuh sering butuh pembuktian dari luar. Walau pasangannya sudah sayang, pujian dari orang baru terasa seperti suntikan ego. Rasanya ingin terus diyakinkan, “Aku masih menarik, aku masih diinginkan.”
2. Bosannya Rutinitas, Haus Sensasi Baru
Hubungan jangka panjang memang cenderung tenang dan stabil. Tapi buat sebagian orang, ketenangan ini terasa membosankan. Selingkuh lalu jadi “jalan pintas” buat mencari adrenalin—deg-degan, rahasia, rasa baru yang bikin jantung berdebar lagi.
3. Kebutuhan Emosional atau Seksual yang Tak Terucap
Kadang ada kebutuhan spesifik yang sebenarnya bisa dibicarakan, tapi tidak pernah disampaikan. Entah karena malu, takut menyakiti, atau tidak tahu cara ngomongnya. Akhirnya, kebutuhan itu dicari diam-diam di luar hubungan.
4. Impulsif + Ada Kesempatan
Selingkuh juga sering bukan rencana besar. Bisa terjadi karena momen: lagi capek, stres, mabuk, atau tiba-tiba ada kesempatan. Kalau pengendalian diri lemah, keputusan impulsif bisa terjadi dalam hitungan menit.
5. Masalah Komitmen dan Self-Sabotage
Ada orang yang terlihat bahagia, tapi sebenarnya takut terlalu dekat atau takut kehilangan. Tanpa sadar, ia merusak hubungannya sendiri sebagai bentuk self-sabotage—seolah berkata, “Aku hancurin dulu sebelum nanti aku yang disakiti.”
6. Faktor Biologis dan Kecenderungan Dopamin
Beberapa riset juga menyebutkan faktor genetik. Ada orang yang memang lebih haus stimulasi, tantangan, dan rasa “baru” karena sistem dopaminnya. Bukan pembenaran, tapi ini membantu kita paham bahwa tidak semua orang merespons stabilitas dengan cara yang sama.
Pada akhirnya, perselingkuhan sering kali adalah pelarian. Bukan selalu tanda hubungan itu buruk, tapi tanda ada sesuatu di dalam diri yang belum dibereskan.
Dan ini penting diingat:
"Orang bisa dicintai dengan baik, tapi tetap belum selesai dengan dirinya sendiri".

Tidak ada komentar