Minggu, 06 Oktober 2019

Serunya Belajar Macapat Walaupun Singkat

Macapat bukan sekedar tembang, tapi pembelajaran soal karakter dan berisi petuah hidup. Macapat juga adalah pelajaran tentang sejarah dan proses kehidupan sejak lahir hingga kematian. Penjelasan ini diberikan oleh Romo Guru Projosuwasono dalam bahasa jawa yang halus sekali di acara Workshop Macapat yang diadakan oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. 


Saya mengangguk tapi juga mengernyitkan kening mendengar penjelasan itu di siang yang panas, di Anjungan DI Yogyakarta TMII. Saya dan beberapa teman mengikuti workshop Macapat itu tanggal 21 September lalu. Hadir juga beberapa pelaku seni yang langsung datang dari daerah Jawa Tengah serta mahasiswa jurusan sastra jawa Universitas Indonesia. Saya sengaja datang untuk tahu lebih jauh tentang Macapat sekaligus mempelajarinya walaupun waktunya singkat.

Saya tak asing dengan Macapat. Sebagai orang yang berasal dari Yogyakarta, Macapat sering saya dengar mengalun di kampung saya di Jogja sana. Saya menikmati meski tak tahu artinya, karena Macapat dilagukan dalam bahasa Jawa yang halus sekali, bukan bahasa jawa sehari-hari. Namun saya merasa bahwa alunan itu punya arti yang dalam, karena membuat hati saya bergetar mendengarnya. 


Saya tahu diri dengan kemampuan bahasa jawa saya yang minim sekali meski saya kemana-mana mengaku orang jawa. Maka ketika workshop, saya "ngumpet" di barisan belakang dan menyanyi dengan suara yang nyaris tak terdengar, daripada membuat hancur alunan merdu Macapat yang ditembangkan oleh para pelaku seni yang rata-rata berasal dari perkumpulan karawitan dan sudah pasti terbiasa menembang Macapat. Namun untuk menyingkir dan lari pulang tak ada dalam pikiran saya.

Romo Guru Projosuwasono menjelaskan Macapat dengan gaya santai sembari mengajari kami. Workshop ini bukan sembarang worskhop karena malamnya, kami akan pentas di anjungan ini, menembang di hadapan para undangan. Tujuannya, memang untuk memasyarakatkan Macapat, agar Macapat dikenal oleh masyarakat luas terutama kalangan milenial. Itulah kenapa mahasiswa sastra jawa diundang hadir juga. 



Kalo dipelajari lebih jauh, Macapat itu banyak jenisnya dan terdiri dari pakem yang bermacam-macam. Namun saya cukup berbangga hati mengenal Macapat dan mempraktekannya walaupun waktunya singkat. Setidaknya ini membuat saya makin mencintai kesenian Yogyakarta. Inilah jenis-jenis Macapat berikut penggunaannya :


- Mijil : Mengacu pada nama bayi yang baru dilahirkan
- Kinanthi : seorang bocah lelaki ramah yang selalu suka berbicara
- Sinom : kisah anak yang telah dilahirkan
- Asmaradana : tentang percintaan masa remaja
- Gambuh : masa pernikahan
- Dhandhanggula : masa-masa bahagia dalam percintaan / perkawinan
- Durma : berbicara tentang mereka yang berani menghadapi kehidupan
- Pangkur : masa menikmati duniawi
- Megatruh : masa menjelang akhir hayat
- Pocung : masa meninggalkan kehidupan alam nyata (wafat)
- Maskumambang : kehidupan di alam barzah




Ngelmu Macapat dalam Ji Ro Lu


Dalam lagu bahasa Indonesia, nada-nadanya dituangkan dalam not do re mi. Dalam Macapat, penulisan angkanya sama dengan lagu dalam bahasa Indonesia namun penyebutan notnya sesuai dengan penyebutan jawa yaitu siji loro telu dan seterusnya... disingkat ji ro lu. Romo Guru mengajari nembang Macapat awalnya dengan cara menyebut not-notnya agar kami tahu nada Macapat ditembangkan. Kemudian baru diajari teksnya.

Ji... ji.. ro lu ro ro ro ji nem... suara orang-orang yang belajar Macapat menggema di seantero anjungan. Meski anjungan yang berada di area semi terbuka dan panas pula, tak mengganggu keasyikan para pelaku seni ini belajar menembang. Juga saya... yang terseok-seok berusaha mengikuti pengajaran dari Romo Guru. 




Lumiyat ingkang bala lumaris
Honenge e katonton
Nenggih wau datheng pepatihe
Pun suwanda tan katon nindhihi
Te mah sri bupati
Ku membeng ingkang luh

Artinya berdasarkan google translate, maaf jika ada salah arti :
Datang untuk menyelamatkan
Hormat untuk menonton
Tetap bersamaku
Bahkan keduanya tampaknya tidak memperhatikan
Saya bupati
Saya tidak menangis

Jika diliat baris-baris dalam Macapat, setiap macapat punya baris kalimat yang disebut gatra. Setiap gatra punya jumlah suku kata (guruh wilangan) tertentu di setiap akhir kalimatnya. Seperti sajak berima. Rima ini ada rumusannya sendiri. Rumit? Iya buat kita yang tidak mengerti. Saya memilih menyimak penjelasan Romo Guru sembari mempraktekkan nembang dalam hati. 




Kami belajar beberapa macapat dan tak terasa hari sudah sore. Waktu untuk istirahat saya jadikan kesempatan buat minum  kopi. Jujur hati mulai deg-degan karena jam 7 malam, kami akan pentas. Demam panggung mulai menyerang. Untungnya segelas kopi membuat saya lumayan tenang.

Setelah gladi resik menentukan posisi duduk, kami diminta memilih kostum untuk pentas. Baju pentas berupa kebaya untuk perempuan dan baju jawa untuk laki-laki sudah disediakan. Namun para pelaku seni dari kelompok karawitan yang hadir sudah membawa perlengkapan sendiri. Sungguh profesional ya.

Saya memakai kebaya warna merah. Merah adalah warna percaya diri, saya berharap warna ini membuat saya lebih percaya diri saat pentas nanti. Selepas ber-make up ala kadarnya dan makan malam, tibalah waktu untuk pentas. Para undangan sudah datang dan saya kembali deg-degan. 




Setelah beberapa sambutan, pentas Macapat para peserta workshop Macapat 2019 dimulailah. Kami duduk berbaris rapih dan bersimpuh di panggung. Penampilan para peserta sudah jauh berbeda dengan saat workshop siang tadi. Semua berkebaya dan berbaju jawa untuk laki-laki, beberapa wanita diantaranya berkonde rapi. Mungkin karena terbawa suasana, kecanggungan saya hilang berganti dengan rasa santai.

Lagu demi lagu mengalun. Macapat ini tanpa gending pengiring ya. Gending hanya mengiringi di awal pentas. Para undangan juga diajak ikut serta menembang. Suasana malam itu menjadi begitu hangat. Saya mendadak kangen Jogja.

Tak terasa 3 jam berlalu sudah. Macapat kelar dipentaskan dan berlangsung dengan lancar. Romo Guru menyampaikan rasa harunya bahwa semua peserta workshop bisa mengikuti pelajaran dengan baik dan mempraktekannya dengan lancar. Romo Guru berpesan agar kami terus mempelajari Macapat. Beliau tak keberatan jika kami menghubungi dan minta diajari lagi. Saya menarik nafas teramat lega.

Saya senang mendapat kesempatan mempelajari Macapat. Namun saran saya, jika workshop seperti ini diadakan lagi, akan lebih baik jika workshop dan pentas tidak diadakan di hari yang sama. Agar para peserta yang benar-benar awam Macapat, seperti saya, bisa berlatih lebih dulu. Saran saya juga agar acara-acara seperti inidibuat secara rutin, hingga misi mengenalkan seni jawa ke masyarakat tercapai.






11 komentar :

  1. Keren banget acaranya. Nembang macapat itu nggak gampang & beruntung banget jika ada guru yg berkenan mengajarinya

    BalasHapus
  2. Wah luar biasa sekali deh. Beruntung mbak Yayat bisa belajar ini. Jadi iri...

    BalasHapus
  3. Menyenangkan sekali bisa ikut workshop Macapat, bahkan ikut pentasnya sekaligus.Semoga lebih banyak lagi menggandeng para awam.Pasti akan banyak yang ingin tahu, mencoba, lalu belajar. Acung jempol untuk lebih memperkenalkan seni budaya, dalam hal ini macapat ke generasi milenial. Terus terang, saya sebagai salah satu 'keturunan Jawa' karena memang lahir dan besar di Jakarta punya ketertarikan. Dulu, saya hanya mengenalnya dari Simbah yang senang sekali nembang di luang waktunya.

    BalasHapus
  4. Jadi macapat itu menyanyi mbak? Kira macapat itu ada hubungannya dengan mistis��. Keren euy bisa manggung macapat yang baru diajari. Btw bawa teksnya?

    BalasHapus
  5. Mudah-mudahan Macapat selalu lestari ya, mba.. Semoga makin banyak anak muda yang tertarik dan meneruskan tradisi

    BalasHapus
  6. Nah baru tahu juga kalau ini namanya adalah Macapat. Wah kesempatan langka nih ya kak bisa hadir diworkshop gini. Semoga generasi muda makin tahu dengan adanya Macapat.

    BalasHapus
  7. wah baru tau ada yang kayak gini d budaya Jawa ya. Bagus nih di workshop-in biar banyak yang tahu

    BalasHapus
  8. Samaan kita.. dari dulu sering dengerin macapat tapi tidak tahu artinya apa. kosa kata bahasa jawa kromo saya masih terbatas euy..

    btw, macapat ini sama dengan nyanyi keroncong gak sih?? mesti pake cengkok-cengkok gitu cara nyanyinya? kan susah banget tuh kalau nyanyi pakai cengkok gitu..

    BalasHapus
  9. mbak Yayat wong Jogja toh, sekampung kalih ibuku hehehe... nampak seru ya seni Macapat ini, aku malah baru tau hehehe

    BalasHapus
  10. Aku langsung buka yutub dong. Penasaran sama tembangnya. :)

    BalasHapus
  11. Sepertinya susah ya belajar Macapat. Tapi ini perlu dilestarikan agar tak hilang dimakan jaman. Anak2 muda skg hrs disosialisasikan nih.

    BalasHapus

Back to Top