Sabtu, 08 September 2018

Puyeng Bayar Biaya Kuliah, Solusinya Apa Sih?

Tahun ajaran baru sudah dimulai. Anak-anak sudah masuk sekolah dan sudah belajar di sekolahnya masing-masing. Para orang tua bisa bernafas lega sejenak arena urusan tentang biaya sekolah, perlengkapan sekolah dan semua yang berhubungan dengan sekolah, sementara ini selesai.


Urusan pendidikan emang nggak bisa dianggap enteng. Masalah biaya pendidikan yang mahal selalu jadi topik hot menjelang tahun ajaran baru. Terlebih buat orang tua yang anaknya melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Biaya kuliah mahal banget.

Saya mengalami juga. Salah seorang anak saya masuk ke sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta. Saya bersyukur ia masuk melalui jalur undangan/prestasi, jadi nggak perlu bersaing dengan ribuan mahasiswa baru melalui UMPTN. Saat teman-temannya melaksanakan UMPTN, anak saya sudah tenang karena sudah berstatus mahasiswa baru di perguruan tinggi yang ditujunya.

Kalau anak sudah tenang, kerepotan orang tua baru dimulai. Meski masuk lewat jalur undangan, tapi biaya kuliah yang mahal kan tetep harus dibayar, bukan gratis gitu dan biaya kuliah saat ini berbilang jutaan rupiah. Cukup bikin mumet kepala sih.



Biaya kuliah jadi topik hot kalo saya ngobrol dengan teman yang kebetulan anaknya baru melanjutkan kuliah juga. Ada seorang teman yang baru saja memasukkan anaknya ke sebuah perguruan tinggi swasta di bilangan Depok. Biaya yang harus dia bayar terbilang puluhan juta, karena ada biaya gedung dan biaya semester.

Lalu ada teman saya yang lain, bilang bahwa ia baru selesai mengurus uang kuliah anaknya yang menyentuh angka 30 juta. Mendapat obrolan para ibu-ibu ini saya bersyukur karena biaya kuliah anak saya nggak sampai 7 juta per semester dan tak ada biaya gedung dan biaya-biaya lainnya. Cukup bayar biaya semester aja untuk mengawali kuliah. Fiuhhhh...

Sebenernya biaya pendidikan bukan biaya dadakan seperti biaya kalo kita mengalami sakit. Jadi mestinya bisa disiapkan sejak lama, jadi ketika anak kita masuk kuliah, dananya sudah tersedia dan orang tua nggak jadi pusing kepala. Teorinya sih gitu. 



Namun masih banyak orang tua yang belum menyediakan dana pendidikan sejak lama atau dana pendidikan sudah disiapkan tapi terpakai untuk hal lain. Sejujurnya.. saya ada di kelompok orang tua yang sudah menyiapkan dana pendidikan namun terpakai untuk hal lain yang lebih penting. Lalu pos dana pendidikan belum sempet diisi lagi eeehhh anak keburu masuk kuliah. Puyeng deh.

Teman-teman saya yang anak-anaknya masuk kuliah itu masing-masing punya solusi untuk bisa membayar biaya kuliah. Ada yang dari hasil pinjaman, ada yang dari hasil menjual barang, ada yang dari tabungan dan ada juga yang membayar kuliah dari hasil investasi. Macem-macem.. tapi yuk coba kita pikirkan mana solusi terbaik untuk membayar biaya pendidikan.

Yang pertama.. dari hasil pinjaman. Buat saya ini adalah jalan terakhir yang akan saya tempuh kalo kesulitan membayar biaya pendidikan karena kita punya pos lain yang harus kita bayar di masa mendatang yaitu pos hutang. Pos hutang berpotensi membuat pengeluaran bulanan kita makin besar.  Intinya kita cuma mengulur waktu untuk mengeluarkan uang.

Lalu ... dari menjual barang. Ini mungkin cara yang baik namun bukan yang terbaik. Kalau kita punya barang yang bernilai tinggi, misalnya properti atau mobil maka dana pendidikan akan bisa kita bayar. Namun kalau nggak punya barang-barang bernilai tinggi, maka cara ini bukan solusi. Kan nggak mungkin menjual 1 set lemari atau kursi hehehehe.



Membayar dana pendidikan dari hasil tabungan.. ini lebih baik. Kita bayar biaya kuliah dari uang kita sendiri, tidak mengganggu cash flow pengeluaran karena dana sudah disisihkan tiap bulan. Namun untuk menabung itu perlu kedisiplinan. Buat orang yang tidak disiplin dalam menabung, ini cukup merepotkan. Nanti duit tabungan sudah banyak malah ditarik untuk keperluan yang lain. 


[ Baca juga : Tabungan Online Berhadiah Umroh Gratis ]
Solusi membayar biaya pendidikan dari hasil investasi.. buat saya inilah yang terbaik. Para ibu rumah tangga terbiasa membeli emas, bukan hanya untuk perhiasan namun juga untuk simpanan. Menjual emas lebih gampang ketimbang menjual properti atau mobil misalnya. Tapi ada kekurangannya juga nih. Emas kan harganya naik turun yak.. kalo pas kita jual harganya turun gimana hayooo..

Setiap solusi punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Namun baik tidaknya solusi itu tergantung sama masing-masing orang. Kalau saya sih pengen punya investasi yang aman dan nggak terlalu terpengaruh pada naik turunnya harga karena pasti dikasih lebih banyak manfaatnya.

Sebaiknya solusi terbaik harus kita punya, karena ngomongin soal biaya pendidikan tapi nggak dapet solusi nanti keburu semester baru datang lagi. Semester baru datang dan orang tua harus bayar kuliah anak lagi. Masa orang tua harus puyeng lagi. Kan capek puyeng terus hehehe...


#PastiDikasihLebih

6 komentar:

  1. Biaya pendidikan makin mahal.. contohnya jgn kan biaya kuliah anak pre school di high scope or sekolah cikal Jakarta udah kayak bayar uang pangkal kuliah 😁😀

    BalasHapus
  2. pilihan solusinya akhirnya yang mana nih mba ..semoga udah gak puyeng lg ya

    BalasHapus
  3. Iya masak jual meja kursi, juga jangan jual hape juga mba yayat, ga bs kerja malahan kitanya ya hehe

    BalasHapus
  4. Waahh, anaknya Mba Yayat hebat, ga perlu bayar uang gedung heuhe. Msh inget sih dulu byr uang gedungnya cukup mahal, tp sptnya per semester dulu ga sampe 7 juta jg sih huehe.

    BalasHapus
  5. Betul banget mbak, biaya pendidikan nggak boleh dianggap enteng harus muali dipikirkan sejak punya anak, aku merasa banget gimana orangtua ku dulu kewalahan menguliahkan kami 5 orang anaknya yang usianya memang nggak terpaut jauh...mudah-mudahan kelak kalau aku punya ank bisa mengelola dana pendidikannya dengan baik. Yakin aja kita #pastidikasilebih ya mbak.

    BalasHapus
  6. Sekarang biaya kuliah aja udah puluhan juta apa kabar anak-anakku nanti ya huhu ga kebayang deh klo ga punya investasi.

    BalasHapus