Selasa, 08 Agustus 2017

Anak Rantau, Tentang Melupakan dan Memaafkan, Novel Terbaru A. Fuadi



“Aku pernah berperang karena dendam dan marah, akibatnya menyakitkan hati baik ketika menang apalagi kalah. Karena itu jangan berbuat apapun karena dendam dan marah tapi bertindaklah karena melawan ketidak adilan”. (Anak Rantau halaman 273)


Sebuah novel sejatinya bukan hanya sekedar buku ceriita jika penulisnya memasukkan pelajaran hidup ke buku itu. Anak Rantau adalah salah satu novel yang sarat pelajaran hidup. Ditulis dengan apik sekali oleh Ahmad Fuadi, penulis yang buku-bukunya selalu menjadi best seller di mana-mana bahkan beberapa di antaranya sudah difilmkan.

Saya datang ke acara soft launching novel Anak Rantau, buku terbaru bang A. Fuadi tanggal 5 Agustus 2017 kemarin. Acaranya diselenggarakan di Gedung Pos di Taman Fatahillah Jakarta. Saya bertanya-tanya saat dalam perjalanan menuju lokasi, kenapa di Gedung Pos Kota Tua? Ternyata ini bertepatan dengan festival literasi yang memang sedang diadakan di lokasi ini. Sisi kanan Taman Fatahillah penuh dengan tenda-tenda yang berjajar buku-buku di dalamnya. 

Anak Rantau berkisah tentang Hepi, anak muda yang kembali ke kampungnya setelah merantau ke Jakarta. Hepi dulu pergi karena terluka pada ayahnya yang ia anggap tidak berdamai dengan dirinya. Ketika kembali ke kampung, Hepi harus bertemu lagi dengan ayahnya. Luka Hepi bangkit lagi, namun bukan hanya Hepi yang terluka, kakeknya yang mantan pejuang juga terluka karena kebijakan negara. Pelajaran tentang memaafkan dan melupakan menjadi benang merah novel ini. 


Buku setebal 357 halaman ditulis bang A. Fuadi selama 4 tahun. Bukan waktu yang singkat untuk menulis sebuah buku. Kenapa selama itu? Bang Fuadi bilang bahwa kita tidak bisa memaksakan menulis jika ide-ide belum muncul. Proses yang lama juga dikarenakan bang Fuadi melakukan riset mendalam untuk buku ini.

Bang Fuadi adalah anak Minang yang merantau, namun untuk menulis Anak Rantau bang Fuadi merasa perlu tinggal di kampung lagi demi merasakan rasanya pulang dari merantau. Bang Fuadi ngobrol dengan tokoh ulama, tokoh adat dan perantau yang balik ke kampungnya. Sebuah totalitas dalam menulis.

Dalam buku ini ada tokoh Inspektur Saldi, seorang polisi. Untuk memasukkan tokoh polisi ke dalam cerita, bang Fuadi juga melakukan riset dengan bergaul dengan pihak kepolisian juga mencari tau tentang narkoba dan kriminalitas. Narkoba? Yap.. karena di buku ini diceritakan bahwa narkoba telah masuk ke kampung Hepi dan meracuni banyak orang di sana. Hingga orang sampai menjadi maling di kampung sendiri demi bisa membeli barang haram itu.


Anak Rantau berlatar belakang daerah Minang. Suasana kampung yang sangat “Minang” membuat saya jadi penasaran dengan daerah Minang. Saya belum pernah ke daerah Sumatra tapi punya banyak sekali teman yang berasal dari Minang. Orang Minang itu kalau mau besar harus keluar dari kampungnya, pergi merantau, kata bang Fuadi di acara kemarin. Dengan merantau, kita bisa punya pengalaman baru dan ilmu baru bahkan juga keluarga baru, lanjutnya lagi.

Di Anak Rantau, Surau menjadi pusat pendidikan moral dan mental anak-anak kampung. Sepinya surau menjadi pertanda bahwa moral anak-anak kampung sedang bermasalah dan ini bukan sepenuhnya salah sanak-anak itu karena menjauhi surau tapi kesalahan terbesar ada pada orang tuanya. Seperti yang dikatakan Datuk pada Hepi di halaman 168 :


“Menurut saya maju mundur kampung kita ditentukan oleh cara orang tua mendidik anak. Kalau orang tua mendidik anak dengan baik tentulah anak dan masyarakat akan baik. Tapi kalau orang tua nya lengah-lengah saja maka rusaklah anak-anak mereka, rusak pula kampung ini. Orang tua itu ibarat tonggak negeri. Kalau orang tua itu sendiri lemah dan goyah, apa yang mau diharapkan?”

“Coba lihat, orang tua kawan-kawan kau ini banyak yang lembek, membiarkan saja anaknya malas  dan tidak mau ke surau. Ada pula yang menyuruh anaknya ke suarau tapi dia sendiri hanya menginjak surau sekali setahun. Itulah yang disebut tungkek bana nan mambao rabah. Tongkat malah yang membawa jatuh rebah, panutanlah yang membawa musibah. Orang tualah yang mengalah kepada anak yang salah. Urang awak sekarang krisis moral.”


Meski kalimat-kalimat ini mencerminkan kondisi surau di kampung Hepi tapi kita bisa menarik pelajaran bahwa jika anak berbuat salah, belum tentu karena anak memang salah. Bisa jadi karena kita sebagai orang tua, mengarahkan anak untuk berbuat salah. Pelajaran yang bagus banget untuk para orang tua kan. 

Membaca Anak Rantau membuat saya senyum-senyum sendiri di bagian Jin. Yap.. orang-orang di kampung Hepi masih percaya dengan mitos Jin. Saya juga senyum sendiri membaca betapa polosnya Hepi. Demi mengumpulkan uang untuk kembali ke Jakarta, Hepi bekerja di seorang warga kampungnya, Lenon, menjadi pengantar barang. Ia tak mencari tahu barang apa saja yang ia antar. Tugasnya hanya mengantar barang dan memastikan barang itu tiba ke pemesannya, itu aja. Menjelang akhir buku ada cerita mengagetkan tentang Lenon. Yaitu… baca sendiri aja ya hehehe.

Kemarin ada pak Miftah Sabri, CEO Selasar yang sama seperti bang Fuadi, seorang perantau juga. Pak Miftah bilang bahwa potret kampung di Anak Rantau bisa terjadi di mana saja bukan hanya di tanah Minang. Kalimat-kalimat yang ditulis dengan sederhana di Anak Rantau mudah dicerna siapapun pembacanya, kata pak Miftah. Iya sih… saya bukan penyuka novel berat, jadi saya suka membaca Anak Rantau.

Diterbitkan oleh Falcon Publishing, Anak Rantau saat ini dijual secara online tapi minggu depan novel ini sudah dijual secara offline. Buku ini direkomendasikan oleh Dee Lestari dan Tere Liye, dua penulis hebat di tanah air. Jad apakah buku ini bagus? Buku ini memuat banyak pelajaran hidup… menurut saya.

7 komentar:

  1. Surau sering dijadikan tempat menimba ilmu ya, Mbak. Jadi keingetan jaman2 kecil pas ngaji setiap abis magrib.

    BalasHapus
  2. Sangat setuju dengan kalimat terakhir mbak Yayat. Memuat pelajaran hidup. Banyakkkkkk.

    BalasHapus
  3. Ini pelajaran mendidik anak juga ya mbak..

    BalasHapus
  4. Masih adakah surau di kota ini ka?

    BalasHapus
  5. Suka banget kalau tema nya tentang perantauan sering banyak inspirasi.
    Pas Buku Negeri 5 Menara juga bagus :)

    BalasHapus
  6. hayo yang anak rantau mana suaranya

    BalasHapus
  7. Benar mbak
    Buku ini memuat banyak pelajaran hidup
    Kisah sehari-hari namun lebih bermakna

    BalasHapus