Minggu, 04 Juni 2017

Pecel Turi yang Crunchy di Beringharjo



Kalau kebetulan Anda jalan-jalan menyusuri lorong Pasar Beringharjo Jogjakarta, cobalah mampir ke pintu B4 yang berdekatan dengan parkiran motor. Pintu ini gampang dicapai dari Jalan Malioboro. Kenapa? Karena ada pecel turi yang enak dan patut Anda coba. Juga ada sate daging dengan gajih yang royal sekali. 


Saya mendatangi dua mbok penjual pecel turi dan sate ini ketika datang ke Jogjakarta dalam rangka Indonesia Community Day tanggal 14 Mei 2017. Bersama teman-teman Kompasianer dari Jakarta yang datang ke sana, kami mencari Pecel Turi. Tadinya Pecel Turi banyak dijual di pintu depan pasar Beringharjo yang berhadapan dengan jalan Malioboro. Tapi area ini sedang dibangun pedestrian jadi penjual Pecel Turinya libur.
Pecel Turi berisi sayur-sayuran yang direbus lalu disiram bumbu kacang. Sayurannya terdiri dari daun pepaya, daun singkong, wortel, kacang panjang, tauge dan bunga turi. Pecel dihidangkan bersama pelengkap yang bisa kita pilih sendiri. Ada mie goreng, bihun goreng, bakwan goreng dan ketupat. Juga ada sate telor puyuh yang penampakannya begitu menggiurkan.


Seporsi pecel turi tanpa ketupat dijual seharga sepuluh ribu rupiah. Porsinya cukup bikin perut kenyang apalagi kalau kita menambahkan ketupat di dalamnya. Kuah kacang yang kental disiramkan ke atas pecel. Kuah kacang ini dibuat sendiri oleh si mbok penjual pecel turi. Buat ukuran saya, kuah kacang ini kurang pedas, tapi tenang.. si mbok menyiapkan sambal buat kita para penyuka pedas.
Jangan mempertanyakan soal kenyamanan saat kita makan. Karena tempat jualan si mbok ini sangat terbatas, jadinya kita duduk ala kadarnya di depan mbok. Ada kursi plastik yang bisa kita duduki namun posisi kita kudu minggir sekali agar tak menghalangi orang yang lalu lalang. Namun kondisi ini nggak menghalangi para pembeli untuk makan pecel turi si mbok. 



Di hari berikutnya saat saya makan pecel turi ini lagi, saya minta porsi bunga turinya lebih banyak. Pohon turi biasa ada di pinggir jalan. Di kampung saya di Jogja banyak pohon turi berjajar di pinggir sawah. Bunga turi berwarna putih kehijauan. Rasanya agak pahit tapi cukup crunchy dikunyah. Bunyinya kres.. kres gitu. Inilah yang membedakan pecel turi dengan pecel lainnya. Kadang-kadang ada bunga kecombrang sebagai pelengkap juga.
Kalau Anda kenyang makan pecel turi, belilah sate daging bergajih yang penjualnya berjualan di dekat pecel turi tadi. Si mbok penjual sate yang bermandikan asap pembakaran sate selalu dikerumuni pengunjung. Tadinya saya pikir ini sate kikil, tapi ternyata sate daging yang porsi gajihnya lebih banyak dari dagingnya.


Sate ini dibakar setelah dilumuri kecap. Sate harus dimakan panas-panas karena kalau sudah dingin, sate ini akan keras dan tak lagi nikmat. Setusuk sate dijual seharga 2500 rupiah. Si mbok penjual sate seta berjualan di tempat ini sejak dulu. Ada 2 pedagang sate di lokasi yang sama. Namun si mbok yang saya potret ini punya pembeli yang lebih banyak.
Berbeda dengan mbok penjual pecel turi, tak ada kursi tempat kita duduk di hadapan mbok penjual sate. Kalau kita makan di tempat ya kita kudu berdiri. Namun sekali lagi, makanan di tempat ini tidak menjual kenyamanan tapi mereka menjual kenikmatan. Sate manis ini tak apa dimakan sembari berdiri. 


Di pintu B4 pasar Beringharjo juga ada penjual bubur kampiun. Nampaknya bubur ini enak sekali hingga penjualnya tak pernah sepi pembeli. Saya dua hari menyambangi si bubur kampiun dan tak pernah kebagian. Belum rezeki saya nih. Kalau Anda ke sana dan sempat membeli bubur kampiun, bilang ke saya ya bagaimana rasanya.

Para penjual makanan di tempat ini sudah tua. Guratan di wajahnya mencerminkan betapa lama dan betapa kerasnya mereka bekerja. Kesetiaan pada pekerjaan sejalan dengan meningkatnya kebutuhan hidup. Maka buat mereka, ini adalah cara mereka bertahan hidup, tapi buat kita, ini adalah cara menikmati Jogja. Jangan ragu untuk share soal mereka di sosial media ya, biar mereka makin banyak pembeli dan makin laku dagangannya. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar