Rabu, 05 April 2017

Miabi, Bukan Mie Biasa





Mie… selalu jadi santapan yang nggak bisa ditolak. Saya lebih menyukai mie daripada bakso. Mie dalam bentuk apapun saya sukai. Mie ayam, mie yamin, mie goreng.. dan semua makanan kreasi dari mie, saya suka. Maka saya segera mengajukan diri untuk ikut ketika BloggerCrony menyambangi Mie Ayam Bintaro atau lebih ngetop disebut Miabi. Rabu, 29 Maret 2017 saya diantar driver ojek online dari stasiun Jurangmangu. Untuk menuju Bintaro, saya memilih naik commuter line dari rumah saya di bilangan Jakarta Selatan. 


Tak sulit untuk menuju Miabi, alamatnya tertera jelas di aplikasi ojek online. Saya tadinya berharap driver ojek online tahu jalan menuju lokasi karena saya walaupun sudah bekali-kali menyambangi Bintaro tetep nggak familiar dengan daerah ini. Apa daya driver ojek online yang saya tumpangi tidak tahu jalan menuju lokasi. Ia tak membaca peta di aplikasi karena petanya error, katanya. Dengan bantuan opa google map, akhirnya saya sampai di lokasi.

Warung mie ayam ini tidak besar namun tidak juga sempit. Kursi dan meja ditata rapi. Teman-teman sudah ada di sini dan saya adalah orang yang terakhir datang. Ada beberapa pembeli yang sedang makan mie ayam juga. Warung ini terletak di pinggir jalan.Tepatnya di Jalan Maleo Raya Pondok Pucung Sektor 9 Bintaro. Lokasinya berdekatan dengan Masjid Raya Bintaro.


Saya memesan mie ayam komplit  dan es jeruk. Setelah melakukan perjalanan jauh, inilah makanan yang cocok buat saya. Nggak lama pesanan saya datang berbarengan dengan acara bincang-bincang santai dimulai. Mbak Loesi Risniawati adalah owner Miabi. Nama Miabi diambil bukan untuk menyamakan nama seorang seleb terkenal Jepang ya tapi memang singkatan gaul dari Mie Ayam Bintaro.

Latar belakang mbak Loesi adalah dokter. Maka ia tak ingin membuat hidangan yang sembarangan. Ia membuat mie karena dirinya memang menyukai mie. Mie Ayam Bintaro dibuat dari bahan-bahan berkualitas jadi dijamin kesegarannya. Juga dipastikan dibuat dari bahan-bahan yang halal. Saking ingin menyajikan mie yang segar, maka mie dibuat setiap hari. Jika ada mie yang tersisa, maka mie ini tak akan dijual keesokan harinya. 

Miabi dibuat tanpa bahan pengawet dan pengenyal. Kehigienisannya  juga dijaga betul. Jangan mencari saos sambal di warung mie ini karena saos sambal tidak direkomendasi. Sebagai gantinya, mbak Loesi menyediakan sambal dari cabai merah dengan campuran minyak. Bukan hanya kualitas mie nya yang dijaga, makanan lain di warung mie ini juga diperhatikan kualitasnya.

Contohnya ayam. Miabi memang bukan cuma menghadirkan menu mie tapi ada juga menu ayam goreng, ayam penyet dan nasi uduk. Ayam diracik dengan bahan hygienis dan tak menggunakan bahan pengawet. Minyaknya ya pasti bukan minyak jelantah. Bakso untuk pelengkap mie ayam tidak dibuat oleh Miabi namun bakso tersebut dipastikan juga kualitasnya. Jadi semuanya serba berkualitas dan hygienis deh.



Untuk ukuran warung seperti ini, menu Miabi terbilang lengkap baik di menu utama, menu pendamping atau minuman. Jarang-jarang nemu kopi di warung mie ayam ya.. tapi di Miabi mah adaaaa. Kopi di Miabi dibuat dari racikan kopi lampung hasil panen kebun sendiri. Yap bu dokter ini juga punya kebun kopi di perkebunannya di Lampung. Sebagai penyuka kopi, tentu saya tak menyia-nyiakan kopi Lampung asli tapi eiitsss nanti dulu.. ada mie ayam yang harus saya santap dahulu.

Mie ayam ini berbeda dengan mie ayam yang biasa saya makan. Ada cincangan cabe merah di campuran mie nya. Kuah dihidangkan terpisah, bening dan sedikit berminyak. Saya campur mie dengan kuahnya, walau kuah saya campurkan semua, tapi tidak membuat mie terlihat lembek. Ayam kecoklatan yang ditaburkan di atas mie rasanya sangat empuk dan gurih. Daging ayam dicampur tanpa tulang.

Mie sungguh kenyal ketika dikunyah. Mie ini terasa bedanya dengan mie lain. Terlihat padat namun empuk ketika dikunya dan begitu sampai di perut tidak membuah begah. Kita bisa menambahkan sambal. Tersedia campuran minyak dan cabe kering di meja. Ini aneh juga, saya belum pernah makan mie ayam dengan cara demikian. Biasanya kan sambalnya dari cabe yang ditumbuk bersama teman-temannya (tomat, bawang dan sebagainya). Saya memesan air jeruk dingin sebagai pendamping. Rasanya sungguh menyegarkan.

Kelar menyantap mie, saya memesan minuman yangteah menjadi incaran saya sejak tadi.. kopi hitam Lampung. Kopi ini terasa pahit.. sangat pahit. Kopi disajikan tanpa bubuk, jadi sudah disaring gitu. Maka kopi bisa diseruput panas-panas tanpa terganggu bubuknya. Rasa pahit kopi yang menyentuh lidah baru hilang beberapa menit kemudian. Tjakeup ini kopinya.

Ada menu Singkong Thailand di warung ini. Kenapa Singkong Thailand? Karena ini cemilan enak yang disukai oleh pengunjung. Saya mencoba Singkong Thailand ini saat mbak Wawa memesannya. Singkongnya empuk dengan kuah santan yang royal sekali. Kuah santan sepertinya dicampur susu karena ada rasa manis di situ.Harga seporsi singkong Thailand ini 15 ribu rupiah. Cocok sebagai teman minum kopi.

Harga menu di sini nggak mahal kok dan terjangkau kantong. Buat lokasi nongkrong bolehlah menyambangi tempat ini. Tapi kalau ke sini saat matahari sedang mengobral sinarnya, ambilan tempat duduk di luar, karena di dalam cukup terasa panasnya.

2 komentar:

  1. aku kok malah salfok ke singkong Thailandnya ya mbaaa hahahha.. sepertinya enyak banget. Tapi kl kesini dari rumahku jauh ajaaah hiks :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. enak mbak... empuk.. manis tapi ada gurih gurihnya.. seporsi isi 3 biji :D

      Hapus