Anak-Anak Disabilitas juga Berhak Mendapat Pendidikan



Anak Indonesia berhak memperoleh pendidikan. Karena itu sekolah dan lembaga pendidikan hendaknya membuka kesempatan untuk anak-anak mendapat pembelajaran. Tak terkecuali anak-anak penyandang disabilitas. Namun sayang, banyak anak-anak disabilitas yang mengalami diskriminasi ketika menjalani proses pembelajaran. Diskriminasi terjadi pada proses belajar atau dalam hal pergaulan sosial di sekolah dan masyarakat. 


Diskriminasi terjadi karena masih adanya stigma negatif di masyarakat bahwa disabilitas sulit mengikuti pendidikan. Edukasi mengenai disabilitas berhak memperoleh pendidikan dan menjalani kehidupan sosial sebagaimana orang lain harus terus dilakukan untuk menghilangkan stigma negatif tersebut. Salah satunya dengan acara bincang-bincang secara daring yang diadakan oleh Ruang publik KBR yang bekerjasama dengan NLR Indonesia. 


Beberapa waktu lalu Ruang Publik KBR mengangkat tema Pendidikan bagi Anak Disabilitas dan Kusta. Hadir sebagai narasumber adalah  Anselmus Gabies Kartono (Yayasan Kita Juga/Sankita), Fransiskus Borgias Patut (Kepala sekolah SDN Rangga Watu Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur) dan Ignas Carly (Siswa kelas 5, SDN Rangga Watu Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur).



Pendidikan Inklusif Adalah Solusi Untuk Anak Disabilitas Mendapat Pendidikan


Data WHO tahun 2020 menunjukkan Indonesia masih menjadi penyumbang kasus baru kusta nomor tiga terbesar di dunia dengan jumlah kasus berkisar 8 persen dari seluruh kasus di dunia. Bukan prestasi yang menggembirakan ya. Per tanggal 13 Januari 2021 saja, kasus baru kusta pada anak mencapai 9,14 persen. Angka ini masih sangat tinggi, belum mencapai target pemerintah yang di bawah 5 persen.


Tingginya angka penderita kusta disebabkan oleh masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit kusta. Penyebab lain adalah penderit kusta malu untuk berobat karena adanya stigma masyarakat. Juga rendahnya kesempatan penderita kusta untuk menjalani pengobatan, terutama karena lokasi penderita yang jauh dari rumah sakit besar. 


Stigma negatif masyarakat pada penderita kusta dan disabilitas, menjadi penghalang anak-anak disabilitas mengenyam pendidikan. Selain itu jumlah sekolah khusus disabilitas terbatas jumlahnya, sehingga anak-anak disabilitas harus bersekolah di sekolah umum. Seperti sekolah SDN Rangga Watu Manggarai Barat. Sekolah ini adalah sekolah umum namun menerima anak-anak disabilitas untuk bersekolah di tempat ini. Saat ini, SDN Rangga Watu, Manggarai Barat sudah menampung 7 orang peserta didik yang berkebutuhan khusus, dan salah satunya adalah Ignas.


Pak Ansel mengatakan bahwa banyak hal yang ditemukan saat berkunjung ke desa-desa pendampingan. Banyak anak berkebutuhan khusus yang putus sekolah, yang tidak mau sekolah, bahkan ada anak disabilitas yang masih usia sekolah yang tidak didaftarkan oleh orang tua atau keluarganya untuk bersekolah. Salah satu faktornya adalah karena minimnya sekolah khusus disabilitas.


Sama dengan yang diungkapkan oleh Fransiskus Borgias Patut, Kepala Sekolah SDN Rangga Watu. Pak Fransiskus mengatakan bahwa di daerah Manggarai Barat masih minim sekolah untuk anak berkebutuhan khusus. Padahal hampir setiap daerah di sini terdapat anak disabilitas usia sekolah. 


Untuk itulah Yayasan Kita Juga atau Sankita terus mendorong mengampanyekan pendidikan inklusif yang melibatkan masyarakat, orang tua, komite, tenaga pengajar, dan lainnya di daerah Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, demikian dikatakan pak Ansel.  Pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang mengikutsertakan anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan anak sebayanya di sekolah reguler yang terdekat dengan tempat tinggalnya.


Program pendidikan inklusif di SDN Rangga Watu berlangsung sejak tahun 2017. Penyelenggaraan pendidikan inklusif ini sendiri tidak lepas dari dorongan dan motivasi yang diberikan oleh Sankita. Pak Ansel menjelaskan bahwa Yayasan Kita Juga atau  Sankita adalah lembaga sosial yang bergerak pada bidang kemanusiaan yang dikhususkan pada isu disabilitas di Manggarai Barat dan berdiri pada 2014, namun baru menjadi yayasan di tahun 2017.


Di SDN Rangga Watu, Manggarai Barat, Sankita melakukan sosialisasi, memberikan pelatihan dan bimbingan khusus untuk meningkatkan kapasitas para gurunya, agar dapat menangani peserta didik yang berkebutuhan khusus. Meski begitu masih ada beberapa kendala yang dihadapi oleh SDN Rangga Watu yaitu terbatasnya sumber daya tenaga pengajar  khusus untuk anak-anak disabilitas. Karena tenaga pengajar yang ada hanya memiliki skill tenaga pendidik umum. Pak Ansel berharap agar pemerintah dapat membuka kesempatan atau lowongan bagi para sarjana tamatan pendidikan khusus, agar dapat mengabdikan dirinya pada sekolah negeri, terutama sekolah yang membuka pendidikan inklusi pada anak-anak disabilitas. 


Sementara, Ignas mengatakan bahwa ia tak mendapat halangan berarti pada proses pembelajaran yang ia jalani. Ignas punya banyak teman di sekolah dan ia hobi bermain voli dan sepakbola. Jika ada teman yang meledeknya, ia hanya tersenyum saja. Agar anak-anak disabilitas seperti Ignas bisa bersekolah, Pak Ansel berharap semua sekolah reguler dapat melakukan program inklusif bagi anak berkebutuhan khusus. Ia juga berharap orang tua tidak khawatir untuk langsung mendaftarkan anaknya mendapatkan pendidikan di sekolah reguler. Meskipun tidak sesempurna sekolah khusus, namun bersekolah tetap menjadi pilihan terbaik untuk anak-anak disabilitas dan kusta.






1 komentar