Mau Jual Makanan di Media Sosial? Perhatikan Kualitas, Kemasan dan Cara Memasarkan


Bisnis jual beli makanan nggak lekang digilas jaman. Namun dari menjamurnya produk-produk baru makanan, hanya sedikit yang mampu bertahan hingga lama dan membuat konsumennya senang hati buat berlangganan. Ada 3 hal yang bisa membuat bisnis menjual makanan berumur panjang yaitu produk, kemasan dan pemasaran. Kemasan yang menarik dan pemasaran yang inovatif tak akan ada gunanya jika produk makanannya tidak sesuai standar lidahnya orang-orang.

Saya berkali-kali menganggukkan kepala, membenarkan penjelasan Chef William Gozali yang live di instagram Home Credit  Rabu, 1 Oktober kemarin. Chef yang sudah malang melintang di dunia perkulineran sekaligus content creator ini menjelaskan dengan gamblang, apa yang harus dilakukan jika kita ingin berbisnis makanan dan memasarkannya via sosial media, sesuai dengan tema Instagram Live malam itu dan campaign #AyoMajuBersama.

Saya sendiri pernah menjual makanan yaitu Risol Ragout pada tahun 2005 gara-gara anak saya suka sekali memakan Risol Ragout. Saya menjualnya ke sebuah pasar pagi di kawasan Depok. Namun Risol Ragout tak laku banyak dan sisanya lebih banyak dikonsumsi sendiri. Saya berhenti menjualnya, rugi terus sih. Lalu pada 2010 saya kembali mencoba berjualan makanan. Kali ini saya jual cookies coklat yang saya buat sendiri. Lagi-lagi jualan ini berhenti karena pemasukan hasil jualan nggak sebanding dengan pengeluaran membeli bahan. 



Toh saya belum kapok menjual produk makanan. Tahun 2016, setelah saya memutuskan resign dari kantor, saya menjadi reseller kue-kue dari teman. Buat saya ini lebih aman karena saya tinggal menjual dan tidak membuatnya sendiri. Iya sik untungnya sedikit, namun lumayan buat membantu dapur tetap mengebul. Sayangnya saya behenti lagi jadi reseller gara-gara hasil jualan tidak banyak. Nggak sebanding dengan capeknya. Teman-teman yang membeli bilang jualan saya rasanya kurang enak.

Sampai sekarang, saya belum mencoba lagi buat jualan produk kuliner. Saya malah lebih banyak membeli produk kuliner yang dijajakan oleh teman. Kadang saya beli karena saya ingin membantu teman mendapatkan hasil dari berjualan, namun kadang saya beli karena produk makanannya benar-benar enak. Era digital yang meningkat pesat, membuat saya tau produk yang dijajakan teman hanya dengan melihat akun sosial medianya.

Perhatikan Kualitas Produk Makanan


Chef William Gozali menekankan kualitas makanan adalah hal yang penting untuk diperhatikan. Menjual makanan berarti menjual rasa. Pastikan rasa makanan yang kita jual sesuai dengan standar lidah konsumen. Tes rasa makanan yang kita jual dengan cara memasarkannya ke lingkungan yang terdekat dulu misal keluarga, teman atau tetangga. Jangan takut buat meminta pendapat jujur mereka. Kritik membangun membuat kita bisa membuat produk yang lebih baik.



Tes juga keawetan makanan yang akan kita jual. Jika kita bilang kue yang kita jual bisa bertahan 3 hari di suhu ruang maka pernyataan itu adalah berdasarkan tes yang kita lakukan sendiri. Perhatikan apakah tekstur makanan akan berubah di kondisi tertentu. Jika menjual coklat, pasti kita akan mengingatkan konsumen untukm menyimpannya di dalam kulkas dan bukan di suhu panas.

Jujur juga tentang bahan makanan yang kita jual. Jika kita informasikan bahwa makanan kita tanpa pengawet, sebaiknya memang makanan benar-benar dibuat tanpa pengawet. Atau jika makanan kita tak mengandung kacang-kacangan maka produk tersebut memang benar-benar dibuat tanpa memasukkan bahan yang mengandung kacang. Kacang membuat alergi pada sebagian orang. Jika kita tak jujur mengenai kandungan produk, maka konsumen tak akan percaya lagi.


Kemasan Bukan Sekedar Pembungkus Makanan


Kemasan bisa menjadi hal yang menarik orang untuk membeli makanan. Saya pernah membeli kopi karena tertarik dengan botol kaca lucu yang menjadi wadahnya. Namun ketika rasa kopi tersebut kurang cocok di lidah, saya tak membelinya lagi. Setidaknya, kemasan menarik membuat konsumen tertarik.



Tapi tunggu.. jangan hanya fokus pada kemasan yang menarik. Kemasan harus membuat makanan yang kita jual tak berubah rasa dan teksturnya. Kemasan harus membuat makanan sesuai dengan standar yang telah kita tentukan ketika sampai di pembeli. Untuk mendapat kemasan yang sesuai, lagi-lagi kita harus melakukan test terlebih dahulu.

Seorang teman saya menjual rempeyek kacang. Kita tahu rempeyek adalah makanan yang mudah hancur. Ia bolak balik melakukan tes sebelum menemukan kemasan yang tepat. Mulai dari plastik tebal lalu dibalut dengan buble wrap ketika dikirim ke pembeli sampai akhirnya membuat kotak kerdus untuk rempeyeknya. Penggunaan kotak kerdus buat rempeyek jualannya lebih efektif. Rempeyek tak hancur ketika sampai di pembeli.

Kotak kerdus harganya memang tak murah. Kotak kerdus membuat harga rempeyeknya terpaksa naik sedikit. Namun langkah ini terpaksa diambil agar rempeyek kacangnya tiba di pembeli dengan bentuk yang tak hancur. Harga yang sedikit lebih tinggi dimaklumi oleh konsumen karena rasa rempeyek teman saya sungguh enak.



Tantangan untuk mencari kemasan yang efektif dan sesuai bisa lebih besar jika penjual makanan bergerak di bidang makanan seperti nasi box atau mie ayam. Kan komponennya banyak tuh, ada nasi atau mie dengan lauknya. Chef William Gozali menyarankan untuk mengemas makanan semacam ini perbagian dan tidak mencampurnya jadi satu. Makanan yang sidah tercampur jadi satu membuat rasa makanan berubah ketika sampai di pembeli.


Agar Pemasaran lewat Sosial Media jadi Efektif


Pemasaran jadi ujung tombak bisnis makanan. Ya kalau pemasarannya asal-asalan, makanan bisa tak laku dan ini bikin rugi. Biaya pemasaran bisa besar jumlahnya jika kita tak pintar-pintar memilih media yang efektif. Chef William Gozali menyarankan pemasaran melalui 2 hal yaitu sosial media dengan IG ads dan FB ads karena murah, kemudian melalui ecommerce. Tentu ini dilakukan setelah poin produk dan kemasan sudah sesuai dengan standarnya. 



Pemasaran melalui iklan di Instagram atau Facebook bisa mengena dan berefek pada penjualan makanan bila kita memperhatikan 3 hal yaitu :

1. Visual

Pasang foto yang menarik, masuk akal dan sesuai dengan tampilan makanan yang kita jual. Perhatikan pencahayaan dan ketajaman foto produk. Taruh porsi yang masuk akal dan jujur, misal kita menjual nasi telur semur. Kalau porsi telurnya hanya satu maka taruhlah satu telur dan bukan dua. Jika telur semur yang kita jual berwarna hitam karena lumuran kecap ya jangan taruh telur yang warnanya putih.

2. Caption

Caption dengan story telling lebih mengundang perhatian pembaca. Berikan caption yang berisi pengalaman orang ketika mengonsumsi produk kita. Berikan kelebihan-kelebihan dari produk kita. Beri juga contact dan cara memesan produk kita.

3. Menyasar kalangan yang tepat

Sebelum memasang iklan, tentukan dulu kalangan yang akan disasar. Misal jualan kita adalah produk kopi, maka kalangan yang disasar adalah orang dewasa, kebanyakan laki-laki, pekerja atau kuliah. Memasang iklan ke kalangan yang tepat bikin pengeluaran biaya iklan jadi efektif dan pastinya berpotensi bikin jualan kita dilirik dan dibeli orang.

Saat ini, orang kerap menggunakan jasa KOL atau influencer buat memasarkan produknya. Ini sah-sah saja asal influencernya menyasar kalangan yang memang kita targetkan. Yang perlu diingat, ketika kita memasarkan produk melalui jalan manapun, lewat sosial media atau influencer, pastikan produk kita sudah solid dulu, sudah proper in everything, kalo menurut istilah Chef Gozali. Karena produk yang proper akan membuat produk tersebut berumur panjang dan mempunyai customer yang loyal. So.. sudah siap jualan makanan?








11 komentar

  1. Wah, senenegnya yach Mbak Yayat dapat ilmu dan wawasan keren soal marketing dari Chef WillGoz :) Aku doyan banget tuh risol ragout, ah jadi kepengen icip buatan mbak ewkwkwkwkwkkw :D Nah iya bener lebih murah pasang iklan jualan makanan dll di IG ads maupun FB ads. AKu suka lihat2 juga soalnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sayang udh gak jualan lagi akutu hehehehe... iya ilmunya sungguh membuka wawasan

      Hapus
  2. Kemasan nih penting banget kalau jualan makanan lewat medsos. Karena saat difoto suka kelihatan cakep. Tetapi, begitu dikemas malah jadinya gak sesuai ekspektasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener.. dan bisa pengaruh ke rasa juga

      Hapus
  3. wah bener smua ini,memang bisnis makanan masih terus jalan ya selama pndemi ini, dan kualitas utama sekali terutama higienitas, karena skrg orang2 lg parno soal corona

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya itulah makanya kemasan penting banget bukan cuman untuk menarik perhatian

      Hapus
  4. Senang sekali bisa belajar cara pemasaran ala Chef William. Dewi juga semakin semangat melakukan peningkatan kualitas packaging dari produk Dewi��

    BalasHapus
    Balasan
    1. waahhh jualan apa mbak.. moga laris manis ya

      Hapus
  5. Bisnis kuliner masih cukup banyak peminatnya, meski masih pandemi sekali pun. Bener banget kualitas makanan, kemasan sama cara penasaran di media sosial jadi salah satu faktor sukses berjualan online.

    BalasHapus
  6. "...kemasan menarik membuat konsumen tertarik." Iya benar, sayangnya seringkali tidak terjadi repeat order setelah tahu rasanya. Btw makasih ulasannya, mba Yayat, bekal ilmuku nih secara suami ngajak buka jualan makanan lagi.

    BalasHapus
  7. Mba yayat se[akat banget kalau kemasan jangan hanya mempercantik. Tapi memang penting untuk jaga kualitas makanan ya. Tapi satu sisi harus cantik dan rapi kemasannya juga

    BalasHapus