Jumat, 31 Januari 2020

Cegah Kebakaran Lahan Gambut dengan Aksi Nyata dan Bukan Jargon Belaka

Beberapa waktu lalu wilayah Kalimantan dan Sumatra dilanda kebakaran hutan yang cukup besar. Kebakaran disebabkan oleh banyak hal, diantaranya ulah manusia dan karena musim kemarau. Kerugian materi dan moril tak terbilang. Banyak warga yang menderita karena asap, terutama perempuan, lansia dan anak-anak.


Bu Theti N. A adalah salah satu wanita yang menjadi korban terbakarnya lahan. Ia hidup terkepung asap di kampungnya, Desa Mantangai Hilir Kecamatan Mantangai Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah. Ironisnya, ia menjadi salah satu pelaku terbakarnya lahan gambut akibat kebiasaan turun temurun di desanya bahwa bekas panen padi harus dibakar untuk menyongsong musim tanam berikutnya.

Kebiasaan itu menjadi penderitaan panjang ketika tahun 2015 kebakaran lahan menghebat karena tambahan musim kemarau. Anak-anak dan lansia menjadi korban utama bahkan ada yang sampai meninggal karena efek menghirup asap. Dari peristiwa inilah ia sadar bahwa kebiasaan membakar lahan itu akan berujung pada ancaman kesehatan dan kerusakan lahan.

Bu Theti N.A menceritakan hal itu di acara Ngobrol Tempo mengenai antisipasi Indonesia di Lahan Gambut 2020 yang berlangsung di Beka Resto Balai Kartini Jakarta tanggal 29 Januari 2020. Acara ini diselenggarakan oleh Kementrian LHK, Badan Restorasi Gambut dan Tempo. Hadir juga Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Fuad dan Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB Prof Dr Bambang Hero Saharjo.



Niat bu Theti untuk menghentikan kebiasaan buruk di desanya disambut baik oleh Badan Restorasi Gambut. Ia diundang mengikuti pelatihan selama 10 hari. Ia diajarkan mengolah lahan gambut dengan cara yang ramah lingkungan dan tanpa perlu dibakar. Kemudian bu Theti mengajarkan hasil pelatihan itu ke kelompok tani perempuan di desanya dan mempraktekkan pelatihan dengan menggarap sebidang tanah.

Lahan seluas satu hektar ditanami berbagai sayuran seperti kacang panjang, terong, tomat, petai dan pohon sengon. Lahan bisa panen setahun 3 kali dan hasil panen tersebut dijual. Ia bersyukur bisa mendapat penghasilan dari bertani dan tak perlu membakar lahan. Ia dan keluarganya terbebas dari penderitaan akibat asap dan pendapatan keluarga pun bertambah karena menjual hasil tani.

Program pelatihan yang didapat oleh bu Theti memang program Badan Restorasi Gambut dalam upaya mendorong masyarakat memanfaatkan lahan gambut tanpa dibakar. Selain di Kalimantan Tengah, program serupa dijalankan di Kalimantan Selatan, Riau, Sumatra Selatan dan Papua. Ini wilayah yang sering terjadi kebakaran lahan gambut. Sudah banyak pula kelompok tani yang melakukan hal yang sama seperti ibu Theti. 




Mencegah Kebakaran Lahan Gambut dengan Aksi Nyata


Indonesia punya lahan gambut dengan ketebalan yang bisa mencapai puluhan meter. Ketika kebakaran, ada 2 hal yang akan terjadi yaitu kebakaran di permukaan gambut dan kebakaran di lapisan dalam gambut. Api yang membakar lapisan dalam lahan gambut menghasilkan asap yang tebal dan relatif sulit dipadamkan. Proses pemadaman bisa berlangsung berbulan-bulan.

Karena sulitnya memadamkan gambut yang terbakar, upaya pencegahan harus dilakukan dengan aksi nyata dan bukan hanya omongan belaka. Prof Dr Bambang Hero Saharjo menemukan di lapangan bahwa upaya pencegahan kebakaran masih sebatas "lip service". Pak Bambang juga menyampaikan kritik pada pemerintah bahwa penanggulangan kebakaran lebih difokuskan pada tanggap bencana dan bukan upaya pencegahan. 



Upaya pencegahan ini termasuk ketegasan hukum untuk mereka yang melakukan pembakaran lahan. Lahan gambut itu tidak bisa terbakar sendiri. Ranting kering atau puntung rokok tidak bisa menyebabkan gambut terbakar, kata pak bambang, Untuk membakarnya perlu usaha yang besar dan bisa dilakukan oleh manusia. Dari kata-kata pak Bambang ini bisa kita simpulkan bahwa kebakaran lahan gambut adalah disebabkan oleh manusia.

Di lapangan pak Bambang menemukan masih tidak tegasnya hukum pada pelaku pembakar lahan, terutama kalau itu mengenai perusahaan besar. Pak bambang sendiri tak ingin pilih-pilih. "Saya pakai kacamata kuda, semua sama salah", katanya. Ketegasan seperti ini memang perlu. Semua orang sama posisinya di mata hukum, yang salah ya harus ditindak. 



Menurut pak Bambang, ini yang harus dilakukan sebagai upaya pencegahan kebakaran hutan :
- Pencegahan bukan lagi jargon belaka
- Lakukan audit kepatuhan pengendalian kebakaran hutan dan lahan kepada pelaku usaha
- Lakukan sudit kanal blocking yang sudah dinyatakan telah direstorasi
- Pastikan alat bantu pengendalian karhutla bekerja
- PLTB (Pengolahan Lahan Tanpa bakar) difasilitasi
- Galakan hukum tanpa pandang bulu

Sementara dari Badan Restorasi Gambut dilakukan berbagai upaya pencegahan kebakaran, salah satunya dengan membangun sumur bor. Sumur bor merupakan salah satu teknik guna membasahi kembali gambut yang sudah kering dengan cara memompa cadangan air tanah yang ada di lapisan akuifer dan disiramkan pada daerah-daerah gambut yang tingkat kebasahan dan kelembabannya kurang pada musim kemarau dan bisa digunakan sebagai sumber air untuk pemadaman kebakaran apabila terjadi kebakaran hutan atau lahan gambut.

Jika berbagai upaya ini dilakukan dengan aksi nyata, niscaya kebakaran lahan gambut akan jauh berkurang. Untuk itu diperlukan kerjasama dari berbagai pihak juga kesadaran dari masyarakat dan pelaku usaha bahwa tindakan membakar lahan gambut akan menyebabkan penderitaan panjang dan kerusakan lingkungan.

18 komentar :

  1. Nah bener nih mbak, memang kegiatan yang dilakukan oleh ibu Theti ini harus terus dijalankan dan rasanya untuk daerah-daerah yang memiliki lahan gambut pun harus melakukan hal serupa deh.

    BalasHapus
  2. Semoga makin banyak orang-orang yang oeduli lingkungan ya Mba, dan tidak mengkotak-kotakan siapa yang merusak lingkungan ya harus dikenakan hukum yang sama.

    Kasian dong, yang rugi banyak pihak, yang untung sepihak doang.
    Dan apa kabar lingkungan kita dengan maraknya pembakaran hutan kayak gitu

    BalasHapus
  3. Aamiin..saya suka sekali dengan program pembuatan sumur bor, selain bisa mengairi lahan gambut , air tersebut juga bisa digunakan oleh petani untuk keperluan sehari hari

    BalasHapus
  4. Masalahnya, di Indonesia belum ada hukum yang tegas buat pelaku pembakaran lahan gambut ya Mba. Sedih karena cuma sampe di oknum yang bakar saja, sementara yang menyuruh gak kena..

    BalasHapus
  5. Mencari rezeki dengan menanam tanpa membuat orang lain ikutan merasakan asap itu bagus banget apalagi ini bisa berdampak pada hubungan negara

    BalasHapus
  6. Pertama kali lihat pembakaran pasca panen sekitar tahun 2013. Awalnya bingung kenapa dibakar? Ternyata itu udah jadi budaya di kalangan petani yah. Dan aku baru tahu itu membahayakan :( beruntung pemerintah sigap dengan menghadirkan BRG ini. Semoga jangkauan BRG nakin meluas ke depannya.

    BalasHapus
  7. Kesadaran bersama penting untuk menghindari terjadinya kebakaran hutan berulang. BRG perlu didukung, petani juga patut didaming, semua pihak ikut pula mengawasi. Semoga tidak ada kejadian karhutla lagi

    BalasHapus
  8. Kebakaran lahan gambut terjadi di saat musim kemarau, ada yang sengaja membuka lahan dengan cara dibakar.
    Duh sebenarnya dampak dari tindakan itu merugikan orang banyak.

    Semoga kedepan kita lebih cerdas lagi,jangan sampai kejadian tersebut rutin terjadi dari tahun ke tahun

    BalasHapus
  9. Ini kegiatan yg bermanfaat bgt ya
    Aksi nyata, bukan jargon swmata

    BalasHapus
  10. Bagus banget ide nya, semoga semakin banyak yang mengikuti cara ini ya mom.
    Selain bisa menurunkan potensi kebakaran, bisa meningkatkan ekonomi para petani juga ya mom.

    BalasHapus
  11. Kan ternyata ada cara yang lebih bijak untuk mengolah lahan gambut, jadi tanpa perlu adanya asap maka hijau nya bumi bisa kembali datang menyergap

    BalasHapus
  12. nahkan...pasti ada cara gimana agar lahan gambut subur tanpa harus dibakar. tapi saya penasaran sih lahannya yg basah itu seperti apa ya kok bs mudah terbakar gitu

    BalasHapus
  13. Aku pernah nonton bagaimana bapak-baoak pemadam kebakaran memadamkan api di lahan gambut yang terbakar. Disiram terus menerus pun asapnya akan terus keluar dari dalam tanah, sedih sekali ngeliatnya :( katanya cuma air hujan yang bisa membantu memadamkan dengan cepat, padahal saat itu musim kemarau. Semoga Kita semua semakin sadar untuk menjaga lingkungan, lebih cinta dengan bumi tercinta . Semoga juga ada wujud nyata dari pemerintah untuk upaya pencegahan kebakaran lahan gambut ini. terimakasih sharingnya mbak, insightful sekali :)

    BalasHapus
  14. Semoga dengan adanya upaya dari Badan Restorasi Gambut dan kesadaran setiap warga indonesia, kedepannya gak akan ada lagi kebakaran lahan gambut ya mbak..

    BalasHapus
  15. Semoga banyak orang seperti bu Theti memberikan aksinya, memberikan pengertian kepada para petani agar tidak membakar lahan supaya subur. Karna ada cara lebih baik guna menghindari kebakaran :)

    BalasHapus
  16. Sedih banget nih ketika lihat kebakaran hutan kayak gini. Padahal untuk memanfaatkan hutan gambut bisa dengan cara lain tanpa perlu dibakar. Semoga kedepannya kejadian serupa bisa berkurang.

    BalasHapus
  17. Kalo liat kejadian kebakaran hutan ini sedih banget karena salah satu manfaat hutan gambut bukan cara dibakar bisa dengan cara lain agar bisa dimanfaatkan dengan baik

    BalasHapus
  18. Informasi seperti ini yang sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi hutan gambut. Mudah-mudahan saudara kita didaerah timur sana mulai lebih teliti masalah lahan gambut ya. Semakin bagus kedepannya tentang hutan gambut ini.

    BalasHapus

Back to Top