Selasa, 15 Oktober 2019

Menyulap Tempat Pembuangan Sampah jadi Wisata Hutan Bakau Dian Wakat Park

Kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga alam, kadang harus dibangkitkan dengan cara yang kreatif. Akibat masyarakat sering membabat bakau yang menahan abrasi dipinggir pantai, sekaligus menjadikan rawa tempat bakau tumbuh sebagai tempat membuang sampah, hutan bakau di Ohoi Dian Darat disulap menjadi tempat wisata. 


Ohoi Dian Darat adalah satu Ohoi (desa) di Kabupaten Kepualuan Kei. Saya menyambagi desa ini pada 14 Oktober kemarin. Jembatan panjang warna-warni menyambut ketika saya datang. Orang-orang yang hobi berpose ria akan langsung menjadikan jembatan warna-warni ini sebagai spot untuk berfoto dan langsung mengunggahnya ke media sosial. Namun saya lebih suka menikmati rapatnya akar bakau yang berada di samping kiri dan kanan jembatan ini.

Berjalan lebih jauh, saya melihat beberapa bangunan kayu kecil yang catnya juga warna-warni. Catnya masih baru, karena bangunan di atas hutan bakau ini dibangun 3 bulan lalu. Bahkan beberapa pekerja terlihat masih bekerja membangun bangunan dan jembatan kayu lagi. Nampaknya area bangunan kayu akan diperluas agar bisa menampung lebih banyak orang. Ada bangunan kayu besar berada di tengah-tengah. Area ini bisa dijadikan tempat untuk mereka yang punya acara dan mengundang banyak orang. 


Beberapa papan tulisan ditempel di batang bakau di sela rimbunnya daun bakau dan cukup membuat senyum mengembang karena kata-katanya lucu. Ada papan yang berisi kalimat "sampahmu harga dirimu". Sepintas terdengar lucu, namun kalimat ini sungguh berarti dalam, karena jika kita membuang sampah sembarangan, ya seperti itulah harga diri kita, sembarangan. 



Bakau bermanfaat menahan kikisan air laut. Ia juga menahan terjangan ombak hingga daratan tidak mengalami longsor. Batangnya kecil tapi kuat. Karena kuatnya, masyarakat Ohoi Dian Darat sering menebang dan menjadikannya bahan untuk memperbaiki rumah. Akarnya yang rapat menghunjam ke laut membuat masyarakat senang membuang sampah di situ. Tentu hal ini berbahaya untuk lingkungan.



Adalah pak Nikson, seorang guru SMA yang tergerak hatinya mengubah keadaan ini. Ia tak ingin lingkungan desanya rusak dan karena desanya terletak persis di pinggir laut, keberadaan hutan bakau sungguh penting untuk keselamatan desa. Ia mencari solusi. Akhirnya dengan usaha keras dan proses yang panjang jadilah wisata bakau Dian Wakat Park.

Ia berikan edukasi pada masyarakat desanya yang perlahan mendukung usahanya. Usaha kreatif ini disambut pemerintah daerah yang lantas memberikan dana desa untuk membangun tempat wisata. Usaha baik memang harus didukung bukan? Lagipula tempat wisata bisa menjadi tambahan pemasukan bagi kas pemerintah daerah. 



Wisata Bakau Dian Wakat Park saat ini sudah punya fasilitas cafe. Orang bisa memesan makanan dan minuman sembari menikmati ademnya hutan bakau dan hamparan laut tenang. Antusias masyarakat cukup baik menyambut lokasi wisata ini. Setiap akhir minggu, wisata bakau dikunjungi banyak orang. Tiket masuknya murah saja, hanya lima ribu rupiah dan hasil penjualan tiket masuk ke kas desa.

Bupati Kabupaten Kepulauan Kei, bapak Muhammad Thaher Harubun, sangat memperhatikan potensi wisata di daerah ini.  Ia mendukung wisata bakau diperluas dan dilengkapi lagi fasilitasnya. Kepulauan Kei memang unggul dalan hal lokasi wisata. Cobalah datang ke Kepulauan Kei. Pantai dengan hamparan pasir putih akan menyambut kita dengan sukacita.



Ada tantangan bagi Dian Wakat Park untuk mempromosikan lokasi wisata ini. Saat ini promosi baru dilakukan secara digital menggunakan sosial media. Kesukaan orang berfoto ria dan mengunggahnya di Instagram masih dijadikan kesempatan untuk mempromosikan Dian Wakat Park. Tentu ini belum cukup untuk mendatangkan pengunjung secara masif, namun seiring berjalannya waktu dan bertambahnya fasilitas Dian Wakat Park, saya yakin lokasi ini akan menjadi lokasi wisata favorit. 



Angin laut menampar pipi ketika saya seruput kopi jahe nikmat yang saya pesan dari cafe. Yap... saya sangat rekomendasikan kopi jahe untuk diminum di sini. Kepulauan Kei bukan daerah penghasil kopi. Kopi yang saya minum adalah kopi yang dipetik dari tanaman kopi yang tumbuh liar. Makanya jumlahnya terbatas.

Mamak penjaga cafe menjelaskan kepada saya, ketika saya bertanya dengan penasaran yang sangat karena kopi jahenya rasanya luar biasa. Kopi setelah dipetik lalu dikeringkan dan disangrai dengan kelapa. Ditambahi jahe agar punya rasa dan aroma yang khas. Setelah itu digiling hingga halus. Saat disuguhkan, kopi diseduh dengan air panas dan ditambahi jahe lagi. Jadilah kopi jahe ternikmat yang pernah saya minum.



Hari beranjak sore, kopi jahe juga sudah habis saya minum. Sungguh saya puas berada di sini. Pikiran dan tenaga segar kembali. Saya beranjak pulang, seiring sinar matahari sore menghampiri akar bakau yang selalu setia menghadang ombak laut, betapapun kuatnya.

1 komentar :

  1. tempatnya enak banget buat merenung sambil memikirkan masa depan ya :')

    BalasHapus

Back to Top