Senin, 12 Desember 2016

Dari CoDe @ BCA, Anak Yang Hobi Main Game Juga Bisa Sukses


Para Pembicara dan bu Inge (dok.yayat)

Game menjadi momok menakutkan bagi sebagian orang tua. Sebisa mungkin orang tua menjauhkan anak dari bermain game karena game membuat kecanduan dan bisa membuat anak melupakan aktivitas lainnya misalnya belajar. Saya adalah tipikal orang yang tidak suka bermain game. Daripada bermain game, saya lebih memilih berselancar di media sosial, mencari berita terkini atau sekedar melihat foto-foto bagus di Instagram.

Anak saya juga bukan anak yang maniak game untungnya. Jika main game, anak saya membatasi sendiri lama game yang ia mainkan. Rata-rata hanya sejam. Itupun tidak setiap hari. Anak saya lebih memilih untuk menggambar manga, kartun ala Jepang yang memang menjadi hobinya. Kalau menggambar manga, ia tahan melakukannya berjam-jam. Atas hobinya ini saya masukkan dia ke SMK jurusan animasi.

Para pembicara (dok.yayat)
Nyatanya.. jaman yang begitu cepat berkembang dan teknologi yang demikian maju melahirkan orang-orang sukses yang berawal dari kegemarannya bermain game. Adalah mas Wisnu Sanjaya, CEO Cody’s App Academy. Ia mengawali karirnya dari bermain game. Ia hobi main game dan melakukannya dengan serius. Berkali-kali ikut lomba dan berkali-kali pula ia menang. Setelah itu ia memula pekerjaan yang masih berhubungan dengan game. Karirnya terus menanjak dan sekarang ia menjadi pimpinan di Cody’s App Academy.

Mas Wisnu Sanjaya menceritakan kisahnya di talkshow CoDe @BCA yang bertema “Bagaimana Start Up memberikan manfaat untuk anak-anak” yang berlangsung di Menara BCA Jakarta, Rabu 30 November 2016 lalu. Mas Wisnu Sanjaya adalah satu dari tiga pembicara di acara ini. Pembicara lainnya adalah mas Aranggi Soemardjan Founder Clevio dan bu Kurie Suditomo Co-Founder Coding Indonesia. Acara dibuka dengan sambutan dari pak Sony Sudaryana, Head of e-bussines technology Kementrian Kominfo. Saya hadir di acara ini bersama sekitar 100 orang yang ingin tahu tentang start up. Banyak diantaranya berstatus mahasiswa. 

Pak Wisnu (dok.yayat)
Satu kata yang sering disebut dalam takshow ini adalah coding. Apa itu coding? Coding adalah salah satu langkah dalam pemograman. Coding itu menerjemahkan persyaratan logika dari pseudocode atau diagram alur ke dalam suatu bahasa pemograman baik huruf, angka dan simbol yang membentuk program. Program apapun itu selalu berisi coding di dalamnya, nggak ada coding ya nggak jadi program. Coding adalah asal mula lahirnya start up.

General Manager Corporate Social Responsibility (CSR) BCA Inge Setiawati dalam acara ini mengatakan bahwa BCA menaruh perhatian pada dunia pendidikan serta perkembangan dunia teknologi digital , BCA melalui Bakti BCA mempertemukan para wirausaha pemula (start up) dengan pakar wirausaha yang tengah sukses membangun dan mengelola bisnis yang berbasis teknologi. “Generasi muda penerus bangsa perlu diberi kesempatan untuk berkiprah secara mandiri dalam memajukan perekonomian bangsa salah satunya melalui jalur wirausaha”, kata bu Inge Setiawati.

Pak Sonny (dok.yayat)
Menurut bu Inge Setiawati, teknologi digital buat anak-anak itu nggak selalu negatif tapi banyak yang positif juga. Dengan kreativitas yang tinggi, anak-anak akan mempunyai masa depan dan karir yang gemilang dan bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru seperti para wirausaha yang hadir di acara ini. Untuk itulah Bakti BCA bekerja sama dengan Code Margonda menyelenggarakan acara ini.

Didi Diarsa, Co Founder Code Margonda menjelaskan, untuk lebih memudahkan masyarakat mempelajari coding, Code Margonda memberi pelajaran tentang animasi, aplikasi Android hingga iOS dari yang berbayar hingga yang free. Code Margonda telah melahirkan start up lokal, nasional dan internasional. Code Margonda berkeinginan anak-anak nantinya akan mendapatkan games yang berkualitas.

Ibu Kurie (dok,yayat)
BCA sebagai bank terbesar di negeri ini memiliki start up hasil karya anak-anak muda Indonesia, namanya Sakuku. Sakuku idenya berawal dari salah satu peserta FinHack 2016 yang mempresentasikan sharing bill. Saya hadir di acara ini dulu dan sangat takjub dengan ide kreatif para anak muda ini. Nah keberhasilan FinHack 2016 makin mendorong BCA untuk berperan aktif memajukan anak-anak muda dengan ide kreatif.

Acara berlanjut dengan penjelasan dari mas Aranggi Soemardjan. Ia membuat Clevio karena berdasarkan pengalaman pribadi. Jadi mas Aranggi punya anak yang introvert. Mas Aranggi sampai melakukan terapi karena ia tak ingin anaknya terus menerus mengalami masalah pada hubungan sosial. Ketika usia 4 SD, anak mas Aranggi membuat game melalui program Android. Ini menyadarkan mas Aranggi bahwa bermain itu juga adalah sarana belajar.

Orang tua jangan melarang anak bermain game. Yang harus dilakukan orang tua adalah what does he play, how does he play dan who does he play with, kata mas Aranggi. Clevio menyediakan kursus dalam bentuk paket untuk anak-anak sampai orang dewasa, bahkan kursus untuk ibu-ibu pun ada. Saya sempat bertanya pada mas Aranggi selepas acara karena saya tertarik memasukkan anak saya ke Clevio. Mas Aranggi bilang kalo Clevio punya paket khusus liburan dan cabangnya tersebar di beberapa daerah. Tinggal cari mana yang terdekat dengan lokasi rumah. 

pemberian plakat (dok.yayat)
Ibu Kurie Suditomo, Co Founder Coding Indonesia mengatakan sebaiknya orangtua jangan melarang anak bermain game tapi berikan syarat pada anak sebelum ia bermain game. Misalnya boleh main game setelah mengerjakan PR. Anak akan punya tanggung jawab pada tugasnya dan mengajarkan disiplin juga. Kebanyakan anak yang masuk ke Coding Indonesia itu awalnya karena kecanduan game.

Sebaiknya orang tua mendiskusikan game yang akan dimainkan oleh anaknya. Dengan begitu orang tua tau apa tujuannya si anak bermain game dan anak juga tau game apa yang sebaiknya ia mainkan. Usia anak yang teramat muda kadang belum bisa menilai baik tidaknya sebuah game bagi dirinya. Game bisa jadi pembuka jalan buat si anak sebenernya, karena dengan game anak tidak berhenti di tingkat “Microsoft Office” aja. Doh jadi ngerasa nih saya.. saya bisanya cuman Microsoft Office.

Selanjutnya bu Kurie mengatakan tantangan terberat bagi pengelola start up itu adalah promosi dan mengedukasi market. Masih banyak orang tua yang nggak tau apa itu coding. Penting untuk mengedukasi market, makanya kita harus membuat market itu sendiri, begitu kata bu Kurie. Bu Kurie bercita-cita membuat coding menjadi mainstream, syukur-syukur masuk ke Kurikulum Nasional, tapi ini masih sulit dilakukan. Mungkin nanti yaaa setelah pemerintah tau betapa pentingnya coding.

Di acara kemarin saya ketemu seorang teman, bu Mercy namanya. Ia punya anak yang seneng banget main game. Bu Mercy mengarahkan anaknya hingga anaknya mengembangkan bakatnya. Di awali dengan maniak game, lalu anak bu Mercy ini meningkat mempelajari program dan menjadi pembuat program. Andre, anak bu Mercy, berhasil membuat aplikasi Cepat Sembuh.  

Aplikasi ini memungkinkan orang-orang yang membutuhkan pelayanan kesehatan bisa cepat mendapat pelayanan. Karena di aplikasi ini punya informasi rumah sakit mana yang masih tersedia kamar sampai daftar untuk pengobatan dokter tertentu pun ada di aplikasi ini. Aplikasi ini rencananya akan diadopsi oleh Kementrian Kesehatan. Hebat ya… jadi mulai sekarang jangan larang anak bermain game. Tapi arahkan dan kembangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar