Jumat, 16 September 2016

Mencicip dan Mencium Kopi Harum di Festival Kopi Flores

Hampir semua orang suka kopi, entah itu kopi hitam atau kopi campur creamer. Saya juga penyuka kopi.. terutama kopi hitam tapi tidak original karena saya minum setelah dicampur dengan gula. Hidup itu manis kenapa mesti minum kopi pahit (halah). Mulai kemarin sampe besok ada Festival kopi Flores di Bentara Budaya Jakarta. Saya menyambanginya siang tadi. Area pameran ramai dengan pengunjung sementara stand penjual kopi tidak sebanyak perkiraan saya. Stand penjualan kopi terletak di bagian pinggir, sementara di bagian tengah ada barisan kursi menghadap ke panggung utama.

Saya datangi sebuah stand yang sedang dirubung pengunjung, ternyata seorang barista di stand ini sedang demo membuat seduhan kopi. Kopi yang sudah digiling ditaruh dalam penyaring dan disiram air panas. Lalu campuran kopi dan air ini diaduk dan kopi menetes dari bawah saringan. Untuk bubuk kopi 40 gram airnya 520 mili saja.. begitu kata sang barista. Ia menambahkan sebenarnya seduhan kopi ini jangan diaduk, tapi untuk mempercepat waktu makanya diaduk. Sembari membuat seduhan kopi, mas barista menjawab semua pertanyaan yang ditanyakan kepadanya mengenai kopi. Pengunjung yang merubung diberi tester kopi yang diseduh tadi. Baunya harum sekali, pahit tapi tidak asam.

Saya lanjut melihat ke stand kopi yang lain. Ada stand kopi La Bajo, tidak ada tester kopi di stand ini. Kopi Arabika blend La Bajo tipe premium ukuran 250 gram dijual 60 ribu rupiah. Selain itu dijual juga selendang khas Flores di stand ini. Saya sempat membeli selendang Flores ini waktu saya berkesempatan ke Larantuka Flores Timur beberapa waktu yang lalu. Di sebelah stand ini ada stand kopi colol. Kopi Colol dan La Bajo sama-sama hasil produksi daerah Manggarai Flores. Bila kopi Colol hanya menyediakan kopi arabika, stand kopi La Bajo mempunyai kopi campuran robusta dan arabika. Para penjaga di stand ini sedang sibuk menjawab pertanyaan para pengunjung.

Di sebelah stand kopi Colol ada stand kopi Ngada yang selalu ramai pengunjung. Di stand ini ada seorang barista yang sedang demo menyeduh kopi sama seperti stand yang saya lihat waktu awal saya datang. Stand Ngada menjual kopi Bajawa jenis Arabika. Saya sempat meminum kopi hasil seduhan sang barista. Yang satu lebih enteng sementara yang satunya lagi lebih dark. Bau dua seduhan kopi ini juga harum. Di belakang si barista, ada barista lain yang sedang sibuk menggiling kopi. Bau harum kopinya menguar kemana-mana.

Saya istirahat sejenak sembari menikmati segelas kopi yang dijual di stand itu. Stand ini milik sebuah cafe, jadi kopi-kopinya ya ala cafe. Saya memilih kopi tubruk Bajawa yang digiling medium artinya biji kopinya tidak digiling halus, ampasnya masih berupa butiran. Harga segelas kopi ini 15 ribu saja. Kopi Bajawa panas ini nikmat dan harum baunya. Sayang hujan rintik turun dan saya langsung masuk ke tenda utama. Saya melihat seseorang yang saya kenal mas Nurul Uyuy.. salah seorang admin Kompasiana. Akhirnya ketemu juga seseorang yang saya kenal di sini.


Mas Nurul Uyuy merupakan peminum kopi sejati. Ia punya beberapa jenis gilingan kopi dan sudah menikmati kopi dari berbagai daerah. Kalau ada teman-temannya yang pergi ke luar kota pasti mas Nurul minta dibawakan kopi. Sembari berkeliling mas Nurul menjelaskan rasa beberapa kopi dan untungnya saya ketemu mas Nurul saat ia lagi baik hati.... eehhh emang mas Nurul baik kok. Ia menawarkan minum kopi di kantor Kompasiana. Kopi yang akan ia giling sendiri karena mas Nurul selalu sedia biji kopi di kantornya. Sebuah tawaran yang nggak saya tolak.

Dan beneran lho... di kantor Kompasiana mas Nurul punya gilingan kopi manual.. bentuknya seperti tabung dan tinggal diputar di bagian atasnya. Kopi yang digiling mas Nurul adalah kopi Gunung Halu dari Jawa Barat dan digilingnya medium ... ampasnya masih berbentuk butiran. Rasa kopi Gunung Halu tidak sepahit kopi Bajawa, lebih enteng.. juga tidak seharum kopi Bajawa. Saya minum  kopi itu sambil mengganggu para admin Kompasiana bekerja. Di kantor Kompasiana ada beberapa jenis kopi tapi yang menjadi favorit para admin adalah kopi liong kata mbak Nindy, salah seorang admin. Kalo pada nggak mau kopi-kopi ini colek saya aja mbak... nanti saya dateng ngambil kopinya (ngarep).

Karena masih ada urusan dan saya sudah cukup mengganggu para admin akhirnya saya pulang. Saya balik ke Bentara Budaya Jakarta karena bebek saya terparkir di sana.  Acara cupping kopi menjelang dimulai, sayang saya tidak bisa mengikutinya. Saya membeli kopi Colol dan Bajawa di festival ini dan tak sabar untuk segera menyeduhnya. Menurut saya festival kopi ini terbilang sukses. Saya berharap jika festival kopi Flores ini diadakan lagi maka jenis kopinya diperbanyak.


Barista di stand kopi Bajawa bilang ia kehabisan biji kopi Bajawa karena pembelian kopi Bajawa yang digiling ukuran 200 gram yang dijual seharga 60 ribu rupiah sudah habis siang itu. Total per hari ini kami menjual 50 kilo kopi, katanya. Besok hari terakhir, apakah kopi giling Bajawa ukuran 200 gram masih ada? Mas barista nggak bisa janji.. mungkin besok kami cuma menyediakan kopi untuk icip-icip.. katanya. Fiuhhhhh untung saya masih kebagian kopi Bajawa. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar