Kamis, 12 April 2018

Gramedia Writers and Readers Forum 2018 Jadi Ajang Dialog Penulis, Pembaca dan Penerbit

Sebenarnya membaca masih jadi kesukaan banyak orang. Makanya banyak event yang berhubungan dengan membaca, seperti bookfair dan sejenisnya masih menjaring antusias banyak orang. Hari masih pagi ketika saya menginjakkan kaki di Perpustakaan Nasional RI yang ada di bilangan jalan Merdeka Jakarta namun orang sudah banyak hadir di pelataran Perpusnas. Saya dan mereka ingin hadir di Gramedia Writers and Readers Forum yang diadakan oleh Gramedia. 


Gramedia Writers and Readers Forum adalah ajang temu pembaca dan penulis serta penulis dan calon penerbit  yang dilangsungkan tanggal 7-8 April lalu. Ajang 2 hari ini diisi oleh penulis-penulis top seperti Tere Liye, Eka Kurniawan, Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, Maman Suherman dan lain-lain. Kita bisa ikut acara bincang-bincang dengan para penulis ini secara gratis di sesi Meet The Masters.

Pada Sabtu 7 April 2018 itu saya sudah berencana mengikuti 'Meet The Masters" dengan Eka Kurniawan dan Maman Suherman. Dua penulis ini adalah penulis yang dikagumi banyak orang. Hall tempat berlangsungnya acara sudah ramai dengan para peserta saat saya memasukinya sebelum acara. 


Eka Kurniawan adalah penulis novel Cantik itu Luka, A Man of The Tiger dan lain-lain. Ia adalah salah satu dari sedikit penulis Indonesia yang bukunya sudah diterjemahkan dalam Bahasa Inggris, Itali dan Jepang. Makanya tema "Meet The Masters" dengan dirinya siang itu adalah tentang sastra Indonesia di mata dunia International.

Menjadi penulis yang bukunya diterjemahkan dalam bahasa asing memang membanggakan namun untuk mencapainya tidak mudah. Buku terjemahan di Eropa dan Amerika itu persentasinya hanya 3 persen dan itu mencakup semua buku-buku di luar Eropa dan Amerika. Bayangin deh... susahnya menembus yang 3 persen itu. Karena itu mas Eka Kurniawan terus mengingatkan tujuan kita untuk menulis supaya nggak patah arang dengan kondisi ini.



Mas Eka Kurniawan bilang bahwa sebaiknya kita menulis bukan karena ingin terkenal, tapi ingin memberi manfaat buat banyak orang. Jika kemudian bukunya laku dan diterjemahkan dalam bahasa asing ya itu bonus aja. Jika buku diterjemahkan dalam bahasa asing juga banyak kendalanya.. salah satunya adalah menemukan penerjemah yang bisa menerjemahkan dengan baik buku kita. Beda kalimat kan artinya juga bisa berbeda.

Kelar sesi Eka Kurniawan saya ikut lagi sesi "Meet The Masters" dengan Maman Suherman yang berduet dengan Bernard Batubara. Kang Maman adalah penulis belasan buku yang salah satu buku hits nya berjudul Re. Sementara Bernard Batubara dikenal sebagai penulis novel. Topik sesi kang Maman dan Bernard ini cukup menarik yaitu menggerakkan literasi melalui sosial media.



Literasi adalah dialog, kata kang Maman Suherman. Setelah membaca, berdialoglah. Dialog bisa dilakukan di mana saja. Berdialog melalui sosial media malah membuka ruang lebih luas. Namun bisa menjaring kritik yang lebih pedas. Bernard Batubara memilih untuk menanggapi segala kritik dengan baik. Ia menganggap semua kritik itu adalah kritik yang membangun.

Sosial media membuat komunikasi antara penulis dan pembacanya menjadi lebih mudah. Namun pembaca dan penulis memang harus mampu menahan diri. Jangan dikritik sedikit lalu main blokir. Sosial media bisa menjadi ajang tukar pikiran kalau digunakan secara sehat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar