Kamis, 01 Maret 2018

Street Photography Bukan Sembarang Fotografi Jalanan



Sejak hampir semua handphone memiliki fitur kamera, orang jadi hobi memotret. Entah itu memotret obyek atau sekedar ber selfie ria. Urusan potret memotret memang makin mudah karena kita tau semua orang punya handphone dan rata-rata berkamera. Nggak perlu kamera besar macam DLSR untuk menghasilkan poto ciamik ala photograper profesional. Orang awam kamera pun bisa melakukannya karena memotret di kamera ponsel bisa dilakukan dengan sekali jepret tanpa perlu settingan yang membingungkan.

Street Photography ala saya
 
Saya punya kesukaan memotret obyek, apapun obyeknya. Entah itu makanan atau orang yang berlalu lalang. Berdasarkan objek yang dipotret, jenis fotografi itu ada beberapa jenis. Memotret makanan disebut food photography, memotret alam disebut nature photography dan lain-lain. Nah saat ini saya sedang hobi memotret suasana jalan raya atau suasana di fasilitas umum seperti stasiun, terminal dan lain-lain. Photography jenis ini namanya Street Photography alias foto jalanan.

Demi menambah ilmu tentang jenis photography ini, saya datang di acara workshop Kelas Blogger di JSC Hive pada 24 Februari lalu. Pematerinya adalah kang Dudi Iskandar. Saya sudah lama mengenal beliau jadi tau persis kesukaan beliau pada photography. Kang Dudi sudah lama menggeluti soal perpotoan makanya beliau sering menang di lomba-lomba foto dan kang Dudi juga aktif di komunitas perpotoan. 

Kang Dudi

Apa sih Street Photography itu?

Menurut Kang Dudi Fotografi Jalanan atau Street Photography adalah salah satu aliran dalam photography yang mengambil lokasi di berbagai ruang publik seperti jalanan, pasar, mal, tempat ibadah, stasiun atau terminal. Foto-foto ini diambil tanpa pengarahan atau objeknya natural. Kamera yang digunakan bebas aja, bisa pakai mirrorless, DLSR bahkan kamera handphone. 

Emang bagus ngambil foto pake kamera handphone? Bagus aja dong… tergantung gimana teknik kita buat ngambil fotonya. Sesungguhnya sulit membedakan hasil foto yang diambil dengan DLSR dan kamera smartphone kalo foto tersebut tidak dicetak terlalu besar, yang dipotret tidak bergerak terlalu cepat dan saat pemotretan cahaya mencukupi. 

Jalan layang dan bis

Teknik pengambilan gambar menurut kang Dudi adalah variasi angle, jangan cuma motret dari depan obyek tapi coba explore ke samping obyek atau belakang obyek. Yang kedua adalah perhatikan arah cahaya, kalau cahaya di belakang obyek itu berpotensi bikin foto jadi backlight. Paling bagus cahaya itu ada di samping obyek. 

Yang ketiga adalah refleksi, bayangan gitu. Obyek semestinya tidak tertutupi oleh bayangan. Yang keempat adalah momen. Nah momen ini yang paling susah di fotografi jalanan karena momen nggak bisa diulang. Obyek diambil tanpa pengarahan jadi momen yang terjadi ya natural. Misal kita melihat orang berjalan di depan kaca. Jadi kan ada refleksi yang bagus banget kalo ditangkap kamera. Nah jika kita abai dengan momen itu ya lewatlah kita dari kemungkinan mendapatkan foto yang bagus.

Yang terakhir adalah kata ijin, maaf dan terima kasih. Fotografi jalanan kebanyakan mengambil foto obyek secara candid. Namun jika memang kondisinya memungkinkan, minta ijin dulu pada orang yang akan kita potret apalagi jika orang tersebut tidak dalam kondisi terbaiknya, misalnya sedang sakit dan sedang berobat di rumah sakit. Minta maaf juga jika orang tersebut keberatan dipotret lalu ucapkan terima kasih jika ia mengijinkan kira memotret. 

Hasil foto kang Dudi (dari IG kang dudi)
 
Untuk melakukan Street Photography, kita harus mempersiapkan diri terlebih dahulu. Butuh tenaga dan waktu pastinya. Memotret Street Photography tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Demi mendapat momen yang tepat, kita kudu sabar menunggu. Kang Dudi aja sering tuh nunggu berjam-jam supaya dapet momen yang menghasilkan foto yang maksimal.

Modal utama yang kudu dipersiapkan sebelum melakukan Street Photography adalah kamera yang mudah dibawa kemana-mana. Nggak perlu kamera gede yang bikin kita jadi repot karenanya. Itulah kenapa kamera smartphone adalah kamera terbaik. Memotret dengan kamera smartphone juga meminimalisir orang-orang yang kita potret menjadi jengah karena dipotret. Trus kalo area motret kita di stasiun, memotret dengan kamera besar berpotensi dilarang pak Satpam.

Modal selanjutnya adalah mata yang selalu siaga. Di area umum kadang kita suka pusing emang ya liat orang dan kendaraan berlalu lalang. Kang Dudi memberi tips carilah fokus pada obyek tertentu. Misalnya rel kereta api di stasiun. Fokus ke rel itu dan pantau kegiatan orang-orang di sekitar rel. Memotret kaki orang yang sedang melewati rel aja bisa jadi foto yang bagus kok kalo momen dan anglenya tepat. 

Banjir (dari IG kang dudi)
 
Selanjutnya adalah berbaur dan memohon ijin. Nih ya balik ke 3 kata ijin, maaf dan terima kasih yang udah saya tulis di atas. Kemudian fotolah setiap momen. Momen itu susah terulang jadi ketika ada momen langsung jepret aja. Nanti pas mau diupload baru deh dipilih-pilih mana foto yang bagus. 

Yang terakhir adalah memotret dengan cepat. Pergerakan obyek foto itu bisa terjadi dengan cepat. Sebelum memotret persiapkan settingan di kamera jadi ketika kita motret kita tinggal jepret dan nggak perlu atur-atur settingan lagi. Tips dikit dari kang Dudi jika kita menggunakan kamera handphone kenali kelebihan dan kekurangan kamera kita. Misal kalo kamera kurang menangkap obyek yang cahayanya kurang maka potretlah di area yang cahayanya cukup. 

Dalam memotret, biasakan kita memperhatikan komposisi foto. Apa tuh komposisi foto? Komposisi foto adalah sebuah kesatuan yang harmonis dari elemen-elemen pendukung foto dengan meletakkan komposisi tepat pada tempatnya sehingga pas dan enak untuk dilihat. 

Komposisi foto

Dalam fotografi dikenal sebutan Rule of Third. Rule of third adalah garis bantu yang ada di tiap kamera. Di kamera handphone juga ada kok. Kalo fitur Rule of Third dihidupkan maka muncul tuh garis vertikal dan horizontal di layar kamera, garis-garis ini membentuk 9 kotak yang sama besar. Garis-garis ini membantu kita menempatkan obyek dalam foto. Bisa di kotak atas, kotak tengah atau kotak bawah.

Kita bisa tempatkan obyek di mana aja tapiiii ada rumusan nih mengenai kemana mata orang memandang obyek dalam sebuah foto. Obyek yang ditempatkan di kotak kiri atas punya persentasi lebih besar untuk dilihat orang karena pandangan mata ke kotak kiri atas ini sebanyak 41%. Yang terbanyak kedua adalah pandangan mata ke kotak kiri bawah sebanyak 25%. Nah kalo kotak kanan atas tuh cuman 20% dan kotak kanan bawah cuman 14%. Jadi lebih baik tempatkan fokus obyek di kotak kiri atas kan. 

Selain Rule of Thirds kudu kita perhatikan juga Looking Room. Looking Room adalah area arah pandang obyek. Misal nih orang yang menjadi obyek foto kita sedang memandang ke kanan. Maka area kanan ini semestinya kita potret lebih luas daripada area kiri obyek. Jangan lakukan cropping pada area arah pandang obyek. 

Hari yang panas

Latihan dan latihan

Teori itu bukan hanya untuk diketahui tapi juga dipraktekkan. Ini terjadi juga dalam Street Photography. Kalo udah tau teori tentang Street Photography selanjutnya praktekin deh. Dari hasil praktek ini kita akan tau gimana cara dapet foto yang bagus, ekspresi obyek seperti apa yang menarik dan terbiasa untuk mendapat momen walaupun momennya terjadi secara singkat banget.

Makanya setelah materi selesai dijelaskan oleh kang Dudi, para peserta workshop lalu pergi keluar JSC Hive untuk mengambil foto. Kebetulan siang itu panas sekali dan jalan di depan JSC Hive ramai dengan lalu lalang orang dan kendaraan. Sebuah tantangan sih mendapatkan foto bagus di kondisi ramai begini. Saya aja sempet bengong dulu bingung mau motret apa. Mana waktu buat memotretnya juga terbatas. Deadline ini bikin tantangan memotret jadi tambah seru. 

Saya inget tips kang Dudi untuk fokus pada obyek yang unik. Di area JSC Hive banyak warung makan, ada bengkel, ada taman, banyak gedung dan banyak kendaraan dan lain-lain. Obyek apa yang unik? Tiba-tiba saya melihat jalan layang yang membentang di kawasan Jalan Satrio ini, dan “tingggg!!” ada bunyi di otak saya, yessss saya akan memotret jalan layang.

Ekspresi (dari IG kang Dudi)

Berjalan lebih jauh ada bagian jalan layang yang berbelok. Saya tertarik memotret bagian ini, maka saya berhenti dan menunggu. Di kejauhan banyak pekerja bangunan yang berjalan ke arah saya. Ohhh jam makan siang rupanya, para pekerja ini istirahat buat makan siang. 

Para pekerja bangunan lewat di depan saya dan saya jeprat jepret aja demi menyelamatkan momen karena saya yakin akan menemukan foto yang bagus dan memang iya.. ketika menyeleksi foto-foto yang saya dapat untuk saya apload di instagram, saya menemukan foto yang saya sukaaa sekali dan foto ini dipilih kang Dudi menjadi salah satu pemenang dalam kontes Street Photography siang itu yipiii…

Materi tentang Street Photography ini sungguh bergizi dan saya berterima kasih pada Kelas Blogger yang telah menyelenggarakan acara ini. Oh ya acara ini terselenggara berkat kerjasama Kelas Blogger dengan C2Live. C2Live adalah sebuah jaringan media yang mengumpulkan dan mendukung blogger, penulis serta pembuat konten di Indonesia dalam membagikan cerita-cerita mereka yang mengagumkan. Terima kasih juga buat Berry Kitchen atas makan siangnya yang mengenyangkan siang itu.

12 komentar:

  1. Semoga bermanfaaylt ilmu, dan terus bisa berkarya

    BalasHapus
    Balasan
    1. aminnnnn makasih kang sharingnya

      Hapus
  2. Bunda baca sampai tunras tas tas tas . . . . . Kang Dudi.

    BalasHapus
  3. Wah, makasih udh share di sini mbak. Jadi byk balajar lg ttg street fotogtafi

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih juga udah membacanya ya mas

      Hapus
  4. Duh, mampir ke sini dapet ilmu baru super berfaedah ini mah, terutama buat aku yang sering gamang dan bengong kalo disuruh motret nih mbaaaak hehehe.

    Makasiiiih sharingnya yah :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo gamang potretin artes artes korea aja mbak heheheheh

      Hapus
  5. hwaaaa, ilmu yang berguna dan bergizi banget ini. Jadi ikut belajar. Udah beberapa kali pengen ikut kelas blogger, selalu ga berjodoh. Padahal aku suka street fotografi, sesekali juga suka melakukannyaa, cuma ilmunya masih minim

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak papa mbak.. kalo ketemu kang dudi tanya tanya aja dan latihan terus

      Hapus
  6. Mantappp....intinya teori dan praktek biar makin jago

    BalasHapus
    Balasan
    1. betullll... dan terus latihan

      Hapus