Selasa, 15 Agustus 2017

Ibu Bijak Mengatur Keuangan Dengan Smart.. Ini Caranya



Keuangan selalu menjadi hal yang seksi buat dibahas. Sebagai seorang ibu, saya menjadi mengelola keuangan keluarga sepenuhnya. Saya mengatur pengeluaran dalam keluarga seperti membayar listrik, membayar tagihan tv kabel, mengatur biaya masak sehari-hari, mengatur ongkos anak dan lain-lain. Tidak mudah mengatur itu semua terlebih bila pendapatan kita terbatas.


Masing-masing keluarga tentu punya pengaturan keuangan yang berbeda. Pos-pos pengeluarannya juga berbeda. Tapi.. prinsip pengelolaannya sama menurut saya yaitu jangan sampai pengeluaran lebih besar dari pendapatan. Hlaaa nomboknya dari mana. Karena itu, penting untuk jadi ibu yang bijak dalam mengatur keuangan. Itulah makanya saya datang ke acara Blogger Gathering Ibu Bijak pada tanggal 25 Juli 2017 lalu. Acara ini terselenggara berkat kerjasama Visa dan OJK.

Di acara itu ada mbak Prita Hapsari Ghozie, narasumber yang juga seorang Finacial Educator. Mbak Prita membicarakan soal Finacial Check Up. Wuih.. apa tuh Financial Check Up? Financial Check Up adalah kegiatan memerika seluruh pendapatan dan pengeluaran sebelum kita memasukan dana pada pos-pos tersebut.

Nih yaaa.. setiap bulan kan kita selalu membayar ini itu. Cek deh apakah ada hutang yang belum tercatat atau ada pendapatan yang belum tercatat juga. Kan sayang ya misalnya kita punya investasi dalam bentuk emas kiloan yang ternyata tidak tercatat (horang kayah hehehe). Atau hutang pada orang lain yang kita lupa mencatatnya jadi lupa dibayar juga. Nah lupa bayar hutang sering kejadian nih. Buat financal check up dalam bentuk tabel biar lebih gampang kita bacanya. 

Jenis-jenis kondisi keuangan

Menurut bu Prita, keuangan yang dikatakan sehat itu adalah jika pengeluaran tidak lebih besar dari penghasilan, minimal pengeluaran harus sama dengan penghasilan. Di posisi keuangan yang seperti ini, kita nggak perlu berhutang sana-sini untuk menutupi pengeluaran yang pada akhirnya membuat pengeluaran kita semakin besar. 


Nggak perlu punya pendapatan yang besar banget untuk ada di posisi keuangan sehat, intinya adalah cerdas mengatur pengeluaran. Ibu-ibu kan suka panik ya kalau melihat barang-barang diskon. Nahhhh.. barang diskon ini bisa jadi salah satu hal yang membuat pengeluaran jadi membengkak. Bukannya irit karena dapat diskon malah jadi besar pengeluaran bulanannya.

Nah kondisi keuangan di mana pengeluaran lebih besar daripada pendapatan ini namanya keuangan tidak sehat. Saya beberapa kali ada di kondisi ini (jujur). Kondisi keuangan yang tidak sehat kadang terjadi karena sesuatu di luar rencana misalnya tiba-tiba suami berhenti bekerja karena perusahaannya sedang mengurangi pegawai. Atau tiba-tiba ada keluarga yang sakit parah dan butuh biaya berobat yang tinggi. Semoga kita semua dijauhkan dari kondisi yang buruk seperti ini ya bu. 

Ada lagi keuangan mandiri yaitu penghasilan lebih besar dari pengeluaran, tidak punya hutang-hutang dan ada investasi walau sedikit. Kondisi keuangan yang terakhir adalah keuangan mandiri yaitu kondisi keuangan di mana penghasilan lebih besar dari pengeluaran dan ada pendapatan pasif dari asset. Misalnya.. ada rumah kontrakan yang pendapatan sewanya kita terima tiap bulan. Kondisi keuangan idaman banget ya.

 
Perangkat Financial Check Up

Dalam hidup, kayaknya nggak mungkin ya kalau nggak punya utang. Saya aja punya tuh utang.. yaitu utang tulisan (eeehhh). Nah biar kita bisa mengatur keuangan lebih gampang, menurut bu Prita ini yang harus kita lakukan :

Membuat tabel kekayaan bersih: buat seluruh daftar asset termasuk asset bergerak dan tidak bergerak. Buat juga daftar hutang. Misalnya hutang kartu kredit, cicilan rumah dan lain-lain. Kekayaan bersih adalah jumlah asset dikurangi dengan kewajiban (hutang). 

Membuat kas : Bikin daftar lagi nih tentang pengeluaran tetap dan tidak tetap. Ongkos anak sekolah, biaya masak sehari-hari, langganan tv kabel, biaya listrik adalah pengeluaran tetap saya. Bikin juga daftar pengeluaran tidak wajib, ini perlu lho biar kita ada bayangan harus mengeluarkan uang buat apa lagi. Misalnya kita berencana untuk liburan.

Dana Darurat

Pernah mengalami rice cooker yang tiba-tiba mati? Saya pernah. Rice cooker saya lelah kali ya tiba-tiba suatu hari mati dan nggak bisa dipake lagi. Akhirnya terpaksa saya rogoh kocek untuk membeli rice cooker baru. Hal yang terbilang remeh ini harus ditempatkan dalam dana darurat. Dana darurat adalah dana yang disisihkan untuk kepentingan mendesak.

 
Dana darurat terbesar biasanya digunakan untuk berobat. Kita tak selalu sehat setiap saat. Adakalanya kita mengalami sakit, apalagi kalau cuaca mulai nggak jelas, kadang hujan kadang panas. Wah siap-siap sakit deh. Nah biar saat tiba-tiba sakit kita nggak bingung, sisihkan dana untuk biaya berobat. Meski ada asuransi, dana darurat untuk sakit tetep harus ada deh karena kadang nggak semua obat ditanggung asuransi.

Hutang, boleh?

Hmmmm… boleh nggak boleh sebenernya relatif. Boleh jika kita bisa membayar hutang tersebut dan hutang tersebut kita gunakan untuk sesuatu yang mendesak. Tak boleh jika hutang itu terlalu besar jumlahnya dan uang hasil hutang hanya digunakan untuk hura-hura. Trus.. kalo mau berhutang kita juga pikirkan apakah hutang itu bermanfaat dan produktif atau nggak.

Hutang yang produktif adalah jika hutang itu memberi manfaat lebih lama dari tempo kita membayar cicilan hutang. Lalu hutang bisa mendatangkan penghasilan. Hutang investasi rumah termasuk dalam hal ini. Rumah yang kita beli dari berhutang harganya di masa depan bisa lebih tinggi lalu jika rumah ini kita sewakan maka hasil sewanya bisa menjadi pendapatan untuk kita. 

Hutang tidak lepas dari bunga. Saat berhutang kita wajib mengetahui bunga yang diberikan untuk hutang kita. Jangan berhutang jika bunganya terlalu besar. Kalau kita berhutang pada bank kita akan dijelaskan secara detail mengenai suku bunga ini. Namun bank-bank bisa memberikan suku bunga yang berbeda. Analisa dulu jika kita memutuskan berhutang lewat bank.

Terakhir… bu Prita memberikan info mengenai alokasi ideal dalam pengelolaan uang yaitu :
5% untuk zakat dan sedekah
10% menabung dana darurat
30% biaya hidup
30% cicilan pinjaman
15% investasi
10% gaya hidup

Nah.. ini rumusan dan pengelolaan keuangan. Tinggal diikutin aja itu rumusnya. Susah? Iya memang… namun demi menjadi ibu bijak, kita harus mempelajari bagaimana mengelola keuangan dengan benar. Saya juga belajar terus nih. Yuk jadi ibu bijak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar