Petani Kelapa Sawit Hadapi Kendala, Pemerintah Ditunggu Solusinya

Indonesia merupakan negara yang subur tanahnya. Bahkan tongkat bisa jadi tanaman kata grup musik Koes Ploes. Karena itu banyak usaha perkebunan di negara kita, perkebunan kelapa sawit salah satunya. Kelapa sawit adalah bahan pokok dalam pembuatan minyak goreng. Minyak goreng merupakan barang yang wajib ada di setiap dapur ibu rumah tangga. Apa jadinya dapur tanpa minyak goreng? Bisnis perkebunan kelapa sawit memberikan pemasukan yang sangat besar pada negara.


Indonesia punya 11,3 juta hektar perkebunan kelapa sawit dan 4,8 juta diantaranya adalah perkebunan rakyat. Namun menurut bapak Asmar Arsjad, sekjen Apkasindo (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia) pada seminar tentang kelapa sawit di Menara 165 Jl TB Simatupang Jakarta tempo hari, dari 4,8 juta hektar perkebunan rakyat itu hanya menghasilkan 3 juta ton per hektar per tahun. Hasilnya tidak maksimal karena banyak hal antara lain lahan marginal, tidak dipupuk dan tanaman tua.

Perkebunan kelapa sawit rakyat di Indonesia dimulai tahun 1980 dengan awal 6.175 hektar dan tahun 2016 telah menjadi 4,8 juta hektar dan menyerap 30 juta tenaga kerja dari hulu ke hilir. Perkebunan kelapa sawit rakyat mempunyai target pendapatan USD 1500 untuk tiap KK per tahun. Namun menurut bapak Asmar Arsjad, perkebunan kelapa sawit rakyat banyak mengalami kendala.


Kendala dalam soal produksi adalah banyak bibit palsu, lahan marginal, pupuk kurang, perubahan iklim dan tanaman tua. Kendala dalam rendemen yaitu kultur teknis, brondolan, mentah, sortasi dan tangkai panjang. Kendala dalam soal sosial adalah pendidikan, budaya, adopsi teknologi dan kesempatan. Secara detail pak Asmar Arsjad memberikan daftar kendala dan hambatan yang dialami petani kelapa sawit yaitu lokasi jauh, infrastruktur jelek, pupuk subsidi tidak ada, lahan kebun kecil, tenaga pendamping tidak ada, regulasi pemerintah, dan tekanan asing.

Bagaimana cara mengatasi kendala tersebut? Pak Asmar Arsjad memberikan beberapa hal yang dibutuhkan oleh para petani sawit agar terbebas dari kendala. Kebutuhan para petani kelapa sawit ini diantaranya sertifikat lahan, replanting 1,5 juta lahan, pabrik kelapa sawit, infrastruktur, tenaga pendamping, pelatihan dan lain-lain. Banyak juga ya. Pemerintah memang punya banyak pekerjaan rumah untuk memaksimalkan pendapatan para petani kelapa sawit kita.

 Indonesia punya tantangan di tahun 2020 yang mencakup suplai, respon pasar, pasar domestik dan perluasan pasar. Pasar domestik perlu perhatian dalam hal hilirisasi, biodisel, obat dan produk penyedap. Sementara di tahun 2017 Indonesia punya sasaran dalam hal produktivitas, SDM, kelembagaan, investasi dan lingkungan.


Nah apa yang harus dilakukan pemerintah? Kebun kelapa sawit rakyat butuh peremajaan, sertifikasi lahan dan regulasi yang menguntungkan petani dan pelaku usaha perkebunan. Pak Asmar Arsjad meminta regulasi pemerintah, LSM dan tekanan asing perlu dievaluasi. Perkebunan kelapa sawit adalah salah satu sumber devisa negara. Maka sudah selayaknya pemerintah memberi perhatian pada usaha perkebunan ini dan segera mengambil tindakan agar segala kendala yang dihadapi para petani kelapa sawit mendapatkan solusinya segera.

Tidak ada komentar